CINTA BUTUH KEJUJURAN
Cahaya senja sore itu begitu damai membuat seorang gadis
semakin larut dalam lamunanya. Wajahnya semakin cantik saja di bawah sinar
jingga itu. Wajah cantik itu terlihat
sedang menerawang nan jauh di sana. Pikirannya terbang jauh, kembali ke
beberapa waktu silam saat masa kecilnya di Panti Asuhan Harapan Baru. Ia ingat
bagaimana ia tinggal saat itu, penuh kebahagiaan bersama saudara- saudari yang
memiliki nasib yang sama dengannya.
Hidup tenang dan penuh sukacita. Betapa bahagianya hidup bersama mereka
sebelum bencana itu datang.
Wajah cantik itu tiba-tiba berubah muram ketika ia ingat
kejadian malam itu saat ia dan seluruh keluarganya di panti di usir dari rumah
yang mereka tinggali. Pasalnya rumah yang mereka tinggali adalah milik seorang
rentenir rakus di kampung itu. Akibatnya ia harus berpisah dengan
teman-temannya yang sudah ia anggap sebagai saudaranya. Dengan langkah gontai,
gadis cantik itu berjalan menyusuri jalanan. Berjalan tanpa tujuan yang pasti.
Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang kakek tua yang berjalan tertatih dan
sepertinya sedang tersesat. Ia pun akhirnya mendekati kakek itu dan membantu
kakek untuk pulang ke rumah. Sesampainya
di rumah si kakek, pak Hasan anak kakek menawarkan tempat tinggal untuk gadis
itu. Dari sana dimulailah perjuangan
yang sebenarnya.
Kenalin nama gadis itu Gea. Sekarang menempuh pendidikan
di SMA Harapan, sebuah sekolah elit dan
ternama di Jakarta. Masuk dengan jalur beasiswa tidak membuatnya minder sedikit
pun tapi dia justru merasa bangga bisa berada di sekolah ini. Hal itu sudah
dibuktikan selama setahun ia menempuh pendidikan di sini. Bukan menyombongkan
diri tapi dia selalu mendapat nilai
tertinggi. Bukan hanya akademik di sekolah tapi dia juga sering mengikuti perlombaan
mewakili Sma Harapan. Bagi dia itu
menyenangkan dan membanggakan.
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah sekian
lama siswa siswi menghabiskan waktu liburan mereka. Seperti biasanya, Gea
menggunakan sepatu rodanya untuk berangkat ke sekolah. Ya selain menghindari
macet juga untuk tujuan penghematan biaya hidup. Maklum saja setelah berpisah
dengan keluarganya di panti asuhan, dia harus hidup sendiri dan berjuang demi
sesuap nasi untuk bertahan hidup. Gea bekerja paruh waktu di bengkel pak Hasan.
Anak dari kakek yang pernah ditolong dulu. Selain itu , setiap pagi dia akan
menjadi pengantar bunga.
Dan hari ini dia sedikit kesiangan berangkat sekolah
karena harus menyelesaikan beberapa tugas untuk mengantar pesanan bunga. Dengan
sekuat tenaga dan keseimbangan tubuh yang bagus, sepatu rodanya meluncur dengan
baik dan kencang sampai tiba-tiba di gerbang sekolah dia kehilangan
keseimbangan dan tanpa sengaja menabrak seseorang yang baru saja turun dari
mobil. Bruukkk.. Gea dan orang yang ditabraknya terjatuh di jalanan.
“Hei liat
gak sih ada orang. Makanya kalau jalan itu jangan meleng” bentak orang itu
seraya berdiri. Dan sepertinya dia kaget mengetahui bahwa yang ada di
hadapannya sekarang adalah seorang gadis cantik.
Gea segera
berdiri dan merapikan seragamnya. Gea menghadap orang tersebut dan kaget melihat siapa yang ada saat itu
berhadapan dengannya. Seorang cowok ganteng dengan kulit putih dan postur tubuh
ideal.
“ Maaf aku
gak sengaja” sahutnya dengan terbata
“Maaf maaf.
Untung aja gue buru-buru. Kalau nggak...”
“kalau nggak
kenapa hah?”
Cowok itu
melangkah pergi tanpa membalas ucapan Gea. Gea juga segera beranjak karena
memang sudah hampir terlambat masuk kelas. Dengan sedikit berlari, dia menuju
kelasnya di 2A. Kelas buat anak-anak unggulan dengan nilai terbaik. Dia
mengetuk pintu saat melihat kalau Bu Melia, guru Matematika udah masuk.
“Masuk”
sahutnya dari dalam kelas
Gea masuk
dan berhenti di depan kelas, sejajar dengan bu Melia yang saat itu sedang duduk
di kursinya.
“Gea, kamu
tau salah kamu apa?”
“Iya tahu
bu. Harusnya saya tidak terlambat”
“Untung kamu
pintar di pelajaran saya. Kalau tidak kamu akan saya hukum”
“ “Iya bu
maaf. Lain kali tidak akan telat lagi”
“Sebelumnya
juga kamu bilang begitu. Ya sudah silahkan kembali ke tempat duduk kamu”
“Makasih bu”
Dia melanjutkan
langkah menuju tempat duduk nya sampai akhirnya melihat sesuatu yang aneh. Seseorang
menempati tempat duduknya Dan... “what?? Pria yang aku tabrak di gerbang tadi?
Pria yang sombong itu? Kenapa dia duduk di meja yang sama dengan ku?” tanya Gea
dalam hati
Melihat Gea berhenti,
bu Melia bertaya dan Gea hanya beralasan tidak jelas dan mengambil tempat yang
kosong di sebelah kanan cowok itu. “Kenapa hari ini aku begitu sial?” batin Gea.
Berada satu meja dengan dia seakan musibah dalam hidup Gea. Di tambah lagi wali
kelas memintanya untuk membantu dia belajar materi yang terlewat. Hari ini Gea
begitu tidak bersemangat karea siswa baru itu. Bahkan saat di kelas juga tak ada
sepatah kata pun yang Gea ucapkan padanya dan begitu juga sebaliknya. Beberapa
hari berlalu. Tidak ada yang berubah dari mereka. Sampai suatu hari, Gea sedang
duduk di kelas dan Evan datang mengacaukan susasana saat itu.
“Gea...”
“Kenapa?”
sahut Gea
“Ikut gue”
sahutnya seraya menarik pergelangan tangan Gea dengan paksa
“Kenapa gue
harus nurut sama lo. Lepasin gue” Gea menghentakkan tangannya yang sudah terasa
sakit
“ Lo ikut
gue sekarang juga. Jangan sampai gue maksa”
“Lo pikir
apa yang lo lakuin barusan bukan pemaksaan? Gue gak mau. Kalau lo mau ngomong,
disini aja”
“oke. Gue
mau nanya apa lo benar-benar gak tertarik buat ikut lomba esay mewakili
sekolah?”
“Gue gak
tertarik. Harus berapa kali sih gue bilang sama lo kalau gue gak minat sama
sekali tentang lomba itu”
“ Lo bilang
apa, gak tertarik? Gak berminat buat ikut lomba? Bulshit tau gak. Munafik lo”
“Eh maksud lo
apa hah?”
“Lo bilang
gak tertarik. Tapi kenapa nama lo ada di mading sebagai perwakilan sekolah buat
lomba esay hah? Kenapa? Jawab gue” suara Evan meninggi karena menahan emosi
yang mulai terbakar. Sementara anak-anak yang saat itu berada di kelas juga
mulai menjauh dari aku dan Evan. Dan saat itu, Gea melihat dia datang, cowok
jutek di gerbang sekolah itu dan diikuti kedatangan orang yang paling dibenci
oleh Gea di sekolah ini, Miko, cowok yang
sering cari masalah sama Gea. Tapi
melihat kemarahan Evan dan juga pandangan heran dari semua anak-anak, dia mulai
bicara lagi sama Evan.
“Gue gak
tahu apa-apa soal itu Van”
Dia tertawa
dan menatap Gea dengan tajam.
“Hah lo kira gue percaya sama omongan lo?. Lo
selalu bilang gak tahu apa-apa tapi lo selalu berhasil jadi perwakilan sekolah.
Hebat banget Gea. Lo emang nomor satu di sekolah ini ya”
“Van gue
serius. Gue gak tahu apa-apa”
“Lo harus
sadar kalau Gea emang hebat Van” sahut Miko dari jauh. Dia memberikan senyum
mengejek kepadaku. ” Dia akan selalu terpilih tanpa test atau semacamnya. Lo
harus relain dia menang”
“Diam Miko.
Tau apa lo?”Bentak Gea
“Gue tau
apa? Lo tanya gue tau apa? Apa lo gak salah nanya Gea? Gue tau segalanya
tentang lo. Dan gue juga tau kalau dari awal lo udah di tawarin buat ikut lomba
ini.”
“Munafik lo
Ge. Pembohong tau nggak“
Evan berlalu
meninggalkan kelas. Namun urusan gue dan Miko belum selesai.
“Gimana rasanya
dipermalukan nona genius? Kamu sakit hati?” ucapnya penuh kemenangan
“Jangan
senang dulu Miko. Lo belum menang”
“Oke. Aku
tunggu pertarungan selanjutnya”
Miko dan
kedua temannya melangkah meninggalkan kelas. Dan aku juga meninggalkan kelas
menuju ruang guru untuk bertemu dengan guru sastra.
“Saya tau
kamu akan datang Gea”
“Saya tidak
pernah mendaftar untuk ikut lomba bu”
“Ibu tau”
“Dan saya
juga tidak akan ikut lomba itu bu”
“Ibu juga
tau itu”
“Lalu kenapa
nama saya ada di mading bu? Bagaimana bisa saya mewakili sekolah? Sementara ada
orang yang sangat menginginkan hal itu”
“Gea, ibu
tau kenapa kamu tidak mendaftarkan diri dalam lomba ini. Dan ibu senang dengan
keputusan kamu. Sekarang tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi kan?”
“Jadi maksudnya ibu sengaja buat...”
“Iya Gea”
“Makasih bu.
Kalau begitu Gea ijin kembali ke kelas ya”
Bu Dita
tersenyum dan mengangguk ramah. Masalah selesai dan Gea bisa tenang lagi. Dia
kembali ke kelas yang ternyata tidak ada pelajaran karena guru Olahraga
berhalangan hadir. Sehingga saat itu kelas kosong. Dan untuk pertama kalinya,
dia bicara pada Gea.
“Hallo gue
Gilang” sahutnya mengulurkan tangannya dan memberikan senyuman
“Oh hi Gea”
“oh iya soal
di gerbang kemarin, maaf”
“Oh it’s
oke”
Gea
melangkah keluar ruangan dan menuju perpustakaan. Memang Dia sudah melupakan
masalah di gerbang kemarin, tapi melihatnya bersama Miko hari ini membuat Gea
marah. Ada hubungan apa dia dengan Miko?
*****
Pagi itu Gea
menemukan setangkai bunga mawar putih terletak begitu saja di meja. Tak ada
tanda-tanda pengirimnya. Hanya setangkai mawar putih yang begitu mekar. Gea meraihnya
dan tersenyum. Yah dia memang suka banget sama mawar dan akan senang banget
setiap dapat hadiah mawar. Tapi siapa yang kasih bunga sepagi ini sama dia?
Sedangkan pagi itu kelas masih sepi banget.
Selama 5 hari berturut-turut Gea mendapat hadiah yang sama. Mawar putih di setiap pagi. Tapi sampai saat ini dia masih belum bisa mengetahui siapa sosok di balik semua kejutan ini. Siapa yang menyiapkan kejutan sepagi itu. Dia sedikit curiga sama Evan karena masalah lomba kemarin. Apa Evan ngelakuin ini karena Gea mengundurkan diri dan mengajukan Evan untuk mewakili sekolah?
Selama 5 hari berturut-turut Gea mendapat hadiah yang sama. Mawar putih di setiap pagi. Tapi sampai saat ini dia masih belum bisa mengetahui siapa sosok di balik semua kejutan ini. Siapa yang menyiapkan kejutan sepagi itu. Dia sedikit curiga sama Evan karena masalah lomba kemarin. Apa Evan ngelakuin ini karena Gea mengundurkan diri dan mengajukan Evan untuk mewakili sekolah?
“Buat apa Evan
ngelakuin itu?” sahut Maya, sahabat perempuan Gea satu-satunya. Dia selalu ada setiap
saat. Kapan pun dan dalam kondisi apapun.
“Yah bisa
aja dia merasa bersalah karena waktu itu udah marah-marah dan salah paham sama
aku”
“Tapi kenapa
aku malah curiga ke Gilang ya?”
“Bisa sih.
Tapi kenapa dia ngelakuin ini. Gue malah udah lama banget gak ngobrol sama
dia"
“Iya juga
sih. Dia gak punya alasan buat ngelakuin hal konyol kaya gini”
“Aaah gue
pusing May”
“Tenang Ge.
Gue bakal bantu lo. Besok pagi loe datang jam setengah 6 ke sekolah. Kita
ketemu depan kelas”
“Buat apa?”
“Kita bakal
nangkap pelakunya langsung. Gue juga penasaran banget siapa orangnya”
“Oke. Sampai
ketemu besok ya”
Dan hari
itu, rencana pun di mulai. Gea akan ikuti saran dari Maya untuk menangkap
pelakunya secara langsung. Dia begitu bersemangat. Keesokan harinya, dia datang
lebih awal dari biasanya. Jam 5.30 dia udah sampe di sekolah persis seperti
rencana Maya. Gea dan Maya akhirnya menuju ruang kelas dan bersembunyi di pojok
ruangan. Cukup lama mereka menunggu namun tidak ada yang datang. Gea melihat arloji
dan ternyata mereka sudah menunggu hampir 30 menit dan tidak mendapatkan hasil
apapun. Gea mulai menyerah ketika tiba-tiba ada yang datang. Dia kaget begitu
melihat Gilang berjalan ke tempat duduk nya dan meletakkan mawar putih di meja.
Lalu dia duduk di tempat duduknya, meletakkan ransel dan berjalan keluar. Gea
dan Maya juga keluar dari persembunyian dan segera keluar ruangan.
“Benar
dugaan gue. Itu Gilang”
“Yah lo benar.
Lalu sekarang gue harus apa? Gue nggak ngerti kenapa dia ngelakuin itu. Kenapa
dia kasih gue mawar? Kenapa dia mencoba buat gue senang?”
“Untuk
sekarang lo tenang dulu. Jangan sampe Gilang tau kalau lo udah tau semuanya oke
?”
“Yah. Gue
masuk dulu May”
Gea berjalan
meninggalkan Maya kerana mereka memang nggak sekelas. Gea masuk kelas dan
menemukan anak-anak sudah mulai rame dan dia juga ada di sana. Iya dia, cowok
yang buat Gea marah tapi buat dia senang juga karena semua kejutannya. Anak- anak
memandang Gea dan melemparkan senyuman mereka.
“Cieee Gea
dapat mawar lagi tuh. Sepertinya dari penggemar rahasia kamu lagi” seseorang
berpendapat. Aku tersenyum dan menempatkan diriku di samping Gilang.
“Hi pagi”
sahutnya melambaikan tangan
“Oh pagi”
jawab Gea tak bersemangat
“Kamu
kenapa? Sakit? Kamu kelihatan capek banget”
“Oh nggak
kok. Cuma kurang istirahat aja mungkin.”
“I see”
“Gilang aku
mau nanya sesuatu boleh?”
“Sure”
“Lo kan
selalu datang lebih awal dari gue. Apa lo pernah liat orang yang selalu kasih
gue mawar?”
“Gue gak
pernah lihat tuh. Setiap kali gue datang, mawarnya udah ada di meja lo”
“oke thanks”
“You’re
welcome”
Gimana pun
cara buat pura-pura gak tahu, Gea nggak bisa menahan perasaannya lagi. Dia
harus ngomong sama Gilang. Kenapa dia melakukan semua itu padanya.
“Gilang...
gue mau ngomong sama lo”
“Oke.
Ngomong aja”
“Tapi bukan
di sini. Gue mau kita ngomong hanya berdua”
Dia
menatapku penuh tanya.” Kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?”
“Ikut gue”
Gea keluar
ruangan dan diikuti oleh Gilang. Gea membawa Gilang ke atap sekolah. Untuk
sementara semua diam tanpa sepatah katapun.
“Kamu mau
bicara apa Gea? Bukan kah harusnya sekarang kita kembali ke kelas dan ikut
pelajaran terakhir?”
“Awalnya gue
mau pura-pura nggak tahu. Tapi gue gak bisa”
“Maksud lo
apa Ge?”
“Gue mau
nanya lo sekali lagi. Apa lo tahu siapa orang yang kasih gue bunga setiap
pagi?”
“Gue kan
udah jawab. Gue gak tau apa-apa Gea”
“Gue mohon lo
jujur sama gue. Gilang please”
“Gue gak
bohong kok. Gue beneran gak tahu”
“Lo yakin
gak tahu apa-apa? Lalu kenapa tadi pagi lo datang lebih awal dan letakin mawar
di meja gue?”
“Kayanya lo
salah orang deh. Itu bukan gue. Lagian buat apa gue ngelakuin hal kaya gitu”
“Gue ngajak lo
bicara berdua untuk alasan itu Gilang. Gue pengen tahu kenapa lo lakuin itu ke
gue. Please jujur sama gue”
“ Oke gue
ngaku kalau memang gue yang naro mawar ke meja lo tiap pagi. Karena gue mau
minta maaf sama lo”
“Tentang?”
“Semuanya.
Tabrakan kita di gerbang sekolah sampai tentang Miko”
“Gue udah
lupain masalah itu juga kok”
“Jadi lo
maafin gue kan?”
“Yap. Gak
ada alasan gue gak maafin lo?”
Setelah kejadian itu, Gilang jadi semakin dekat dengan
Gea. Mereka jadi sering mengobrol dan
juga pulang bareng. Awalnya Gea menolak tapi dia tetap melakukannya.
“Gea gue
antar ya”
“Hah? Gak
usah. Gue pulang sendiri aja”
“Gak baik
tau menolak kebaikan orang lain. Ayo naik”
Dan lagi
lagi Gea menurut. Dia naik ke mobil Gilang yang sejujurnya baru pertama kali ia
lihat. Ada yang aneh. Selama ini yang dia tau adalah Gilang anak seorang Sopir
dan kehidupannya sangat sederhana. Gea bahkan masih ingat beberapa waktu lalu
saat Gilang ngajak makan bareng di luar.
“Gea kita
makan di pinggir jalan begini gak papa kan?”
“Iya gak
papa kok. Malah aku seneng”
“Kenapa?”
“Iya. Aku
biasa makan di pinggir jalan begini. Aku bisa lebih dekat dengan para
pedagangnya. Aku jadi tahu kehidupan mereka. Dan karena itu aku nggak akan
merasa hidup aku yang paling menderita. Aku bisa berkaca dari mereka.”
“Aku kagum
sama kamu Ge.”
“Kenapa?”
“Ya kamu
bisa punya pemikiran positif seperti itu. Sementara masih banyak orang di luar
sana yang selalu menyalahkan kehidupannya yang dianggap buruk”
“Lalu gimana
sama kamu?”
“Aku? jujur
aja aku juga sering mengeluh tentang hidup aku. Tapi setelah aku ketemu kamu,
sedikit demi sedikit aku mulai mengerti arti kehidupan”
“Bagaimana
dengan kehidupan kamu?”
“Hidup aku
biasa aja. Gue terlahir di tengah keluarga yang untuk bertahan hidup saja harus
bekerja di bawah perintah orang lain. Jangankan untuk biaya sekolah, kadang
untuk makan saja susah. Tapi setelah bapak kerja jadi supir, hidup kita sedikit
lebih baik karena bapak sudah ada penghasilan tetap.”
“Tapi kamu
masih enak punya orangtua” ucap Gea dengan wajah murung
“Kenapa
tiba-tiba kamu bicara begitu?”
“Iya kamu
harus bersyukur punya orang tua. Sedangkan aku, dari kecil aku sudah dibuang ke
panti asuhan. Lalu setelah umur 16 tahun aku dan keluarga aku di panti diusir
secara paksa oleh suruhan orang-orang berduit”
“Jadi karena
itu lo benci sama orang kaya?”
“Bukan cuma
karena itu. Aku pernah dengar cerita dari ibu panti bahwa orangtua aku pergi
dan meninggalkan aku karena uang. Mereka ngejar kekayaan dan menelantarkan anak
mereka” Ucap Gea dengan air mata
Perlahan
Gilang memeluknya dan mengelus lembut kepala gadis itu berusaha untuk
menenangkannya.
“Udah Gea.
Kamu jangan nangis lagi. Kamu bisa ngandalin aku saat ini. cari aku kalau kamu
butuh. Oke ?”
Gea
mengangguk mengiyakan apa yang Gilang ucapkan. Entah mengapa ada perasaan
hangat dan nyaman ketika Gilang memeluknya. Gea merasa tidak ingin melepas
pelukan itu. Tapi ia tau hal itu salah. Dia bukan siapa-siapa bagi Gilang. Just
a friend.
“Makasih
Gilang”
Ingatan itu
masih membekas dalam ingatan Gea. Sehingga saat Gilang mengajak Gea pulang
dengan sebuah mobil membuat Gea merasa ada yang aneh. Sepertinya ada sesatu
yang ia tidak tahu tentang Gilang.
“Eh ini
mobil siapa?”
“Hah? Oh ini
mobil Miko” Jawab Gilang mulai gugup
“Kamu kenapa?”
“Nggak kok.
Aku Cuma gugup aja duduk di dekat cewek cantik” ucapnya dengan ekspresi yang
lucu
“Ih apaan
sih. Dasar gombal”
“Lah kok
gombal sih. Bener tau. Kalau gak percaya nih rasain detak jantung aku makin
cepat”
Gea dengan
sontak tertawa mendengar ucapan Gilang.
Siang itu mereka tidak langsung pulang. Tapi Gilang
membawa Gea ke sebuah taman bermain. Disana Gilang mengucapkan bagaimana
perasaan nya untuk Gea. Mendapat pernyataan cinta dari cowok ganteng itu
membuat Gea tidak bisa berkata apa-apa. Dia kaget mendengar Gilang memintanya
untuk menjadi pacar.
“Kok kamu
diam aja Ge?”
“Bentar aku
masih belum sadar dari rasa kaget aku”
“Gue nggak
bisa menunggu lama Gea. Gue...”
“Iya gue
mau” Jawab Gea tanpa menunggu Gilang menyelesaikan ucapannya
Gilang menatap
Gea untuk meyakinkan dirinya kalau ia tidak sedang bermimpi. Gea lantas
memeluknya dengan erat dan mengatakan kalau dia mau jadi pacar Gilang. Begitu
juga Gilang yang membalas pelukan Gea.
“Makasih
Gea. Aku janji akan selalu buat kamu bahagia”
Setelah resmi pacaran, kedekatan
mereka semakin bertambah. Setiap hari selalu bersama dan sejauh ini tidak ada
yang berubah sampai suatu hari saat pulang sekolah, Gea melihat Gilang di depan
sebuah rumah mewah sedang berbicara dengan sepasang suami istri. Dari jauh Gea
mengamati dengan seksama. Dia melihat Gilang naik dan mengendarai sebuah mobil
mahal. Dan Gea tau itu bukan mobil Miko. Sejak saat itu Gea mulai curiga pada
Gilang. Dia curiga bahwa selama ini ada hal yang Gilang sembunyikan darinya.
Sampai saat di sekolah beberapa hari kemudian, Gea memberanikan diri untuk
bertanya pada Gilang.
“Gilang aku
mau nanya sesuatu boleh?”
“Boleh dong.
Apa sih yang nggak buat pacar aku”
“Kamu gak
lagi nyembunyiin sesuatu kan dari aku?”
“Kenapa kok
kamu nanya begitu?”
“Hmmm
sebenarnya 2 hari yang lalu aku liat kamu di rumah Om Bastian. Dan aku juga
liat waktu kamu naik mobil mewah itu”
“Ya ampun
jadi karena itu kamu curiga sama aku. Aku pernah kan cerita sama kamu kalau
bapak aku kerjanya supir. Nah Pak Bastian itu majikannya. Kemarin bapak nggak
bisa masuk jadi aku yang gantiin”
“Kamu nggak
bohong kan?”
“Ya nggak
dong. Kamu nih ada- ada aja deh. Biar kamu yakin, nanti kamu ikut aku ke rumah
ya” ucap Gilang seraya mengelus lembut rambut gadis yang dicintainya itu. Namun
dalam hati ia merasa bersalah telah berbohong.
Sesuai
dengan apa yang telah direncanakan, Gea dan Gilang menuju sebuah rumah dengan
bangunan sederhana. Ya Gilang mengajak Gea ke rumah Bibi yang bekerja di rumah
Gilang. Di sana ada seorang anak kecil yang kira-kira berusia 10 tahun.
“Mas Gilang
ngapain...”
Gadis kecil
itu belum menyelesaikan ucapannya ketika Gilang dengan cepat menutup mulut anak
itu melarang dia untuk bicara.
“Ibu ada?”
tanya Gilang kemudian
“Belum
pulang. Mungkin nanti malam”
“Oh iya
kenalin ini pacar mas. Namanya ka Gea”
“Hallo mbak
Gea. Nama saya Deva”
“Oh hallo
Deva. Kamu lucu banget” ucap Gea seraya mencubit kecil pipi gadis itu
Deva lalu
masuk kamar dan begitu juga Gilang. Dia Meminta Gea menunggu di ruang tamu
seraya ia berganti pakaian. Gea menurut dan selama di ruang tamu, ia mengamati
keadaan rumah itu. Ya memang sederhana dengan perabotan yang sangat terbatas.
Tapi Gea merasa ada yang aneh. Dia tidak menemukan satu pun foto Gilang. Yang
ada hanya foto Deva dengan orangtua mereka. Saat itu entah mengapa kecurigaan
Gea semakin meningkat. Ia yakin Gilang telah berbohong padanya. Dan saat Gilang
keluar kamar menemui Gea, ia terlihat buru-buru.
“Gea sayang
maaf ya. Aku harus pergi. Ada sesuatu yang terjadi dengan Bapak. Jadi aku harus
ke sana”
“Kemana? Aku
ikut ya?”
“Nggak. Kamu
mending pulang aja. Maaf aku gak bisa anterin kamu pulang ya. Aku pergi dulu”
ucapnya seraya mengecup kening Gea yang membuatnya berdiri mematung untuk
beberapa saat.
Tanpa
sepengetahuan Gilang, Gea ternyata mengikutinya. Dan Gea sangat kaget saat
mendapati Gilang masuk ke rumah Om Bastian, seorang pengusaha kaya yang cukup
terpandang saat ini dan dia merupaka orang yang sangatdihargai di kompleks ini.
“Untuk apa
Gilang masuk ke sana?” tanya Gea pelan.
Ia jadi
teringat ucapan Gilang bahwa ayahnya bekerja di sana. Tapi saat Gea mengamati
rumah itu dari jauh, ia melihat Om Bastian turun dari mobil, masuk ke rumah dan
beberapa menit kemudian keluar lagi bersama Gilang dan juga Tante Ratna, istri
om Bastian. Mereka bertiga masuk mobil dan kemudian meninggalkan pelataran
rumah mewah itu. Gea semakin penasaran dan akhirnya memanggil ojek untuk
mengikuti mobil itu. Ternyata mobil itu berhenti di depan sebuah perusahaan
ternama milik om Bastian, Tanoto Grup. Setelah mereka masuk, Gea mendekat dan
mulai bertanya kepada pegawai di sana tentang ketiga orang tersebut dan betapa
kagetnya Gea ketiak mengetahui bahwa ternyata Gilang adalah anak Om Bastian dan
Tante Ratna.
“Oh itu tuan
muda. Dia anak satu-satunya pak Bastian ketua komisaris perusahaan ini”
Seperti
tersambar petir, Gea seakan tidak bisa mengatasi kekagetannya. Jadi selama ini
Gilang bohong?untuk apa?
Sore itu Gea memutuskan untuk pulang ke rumah kontrakan
kecilnya. Ia ingin segera terlelap dan melupakan Gilang. Tapi semakin ia
berusaha melupakan, ia semakin merasa sakit. Perlahan air matanya jatuh
membasahi pipi putihnya. Ia benar-benar merasa dihianati oleh Gilang. Tapi tiba-tiba
ada yang mengetuk pintu rumahnya. Dan Gea menemukan pria paruh baya sedang berdiri di depannya. Menatapnya
dengan mata sayu.
“Anakku Gea.
Ini papa nak”
“Ih bapak
apa-apaan sih pak. Siapa anak bapak. Orang ayah saya sudah meninggal kok”
“Gea ini
papa. Maafin papa selama ini ninggalin kamu. Papa udah nyari kamu kemana-mana
sayang tapi papa baru ketemu kamu sekarang”
“Sebaiknya
bapak pergi karena saya tidak kenal bapak dan papa saya sudah meninggal “ ucap Gea seraya menutup pintu.
Namun pintu belum tertutup karena di tahan oleh sang bapak. Dia mengeluarkan
sesuatu dari sakunya.
“Kamu ingat
ini Gea?” dia menunjukkan sebuah cincin yang di dalamnya ukiran nama mereka
bertiga. Papa, mama dan Gea. cincin itu persis dengan milik Gea.
“Saya tidak tau bapak siapa. maaf” Kali ini Gea
benar-benar menutup pintu. Pikiran dia berkecamuk. Apa yang harus ia lakukan
saat ini.
Keesokan harinya, Gea sengaja menemui
Gilang dan menyatakan ingin mengakhiri hubungan mereka.
“Aku mau
kita putus Lang”
“Gea kenapa
tiba-tiba ? Kamu sadar kan sama apa yang sedang kamu ucapkan?”
“Ya sangat sadar. Aku mau putus karena pacar yang sangat aku sayangi ini gak bisa jujur sama
aku. Pacar yang aku percayai ternyata hanya berpura-pura susah karena kasihan
sama aku. Pacar yang ternyata anak seorang pengusaha ternama”
“Gea
dengarin aku. Aku memang udah bohong sama kamu. Tapi itu karena aku sayang sama
kamu Gea. Karena aku ingin bersama kamu. Karena aku tau hal itu gak akan
terjadi kalau kamu tau aku anak siapa”
“Aku putus
sama kamu bukan karena kamu anak om Bastian. Tapi karena kamu udah bohong sama
aku. Kamu tau kan aku sangat gak suka sama pembohong”
“Tapi
Gea...”
“Mulai saat
ini kita gak ada hubungan lagi”
Gea
melangkah pergi dan kemudian berhenti melangkah mendengar ucapan Gilang.
“Aku
dijodohin Ge. Sama anak teman papa. Tapi aku akan menolak perjodohan ini Gea.
Jadi aku mohon jangan tinggalin aku”
“Pasti
wanita yang dijodohkan sama kamu itu anak orang kaya. Yang mempunyai dunia yang
sama kaya kamu. Kamu sebaiknya menerima perjodohan ini”
“Tapi aku
gak cinta sama dia. Aku Cuma cinta sama kamu Gea”
Tanpa menghiraukan
Gilang, Gea pergi. Hatinya hancur saat
ini. Bukan hanya karena masalah kebohongan Gilang tapi juga karena kabar
tentang penjodohan. Ia benar-benar harus merelakan Gilang walaupun sebenarnya hatinya
tidak ingin melepas pemuda yang sangat dicintainya itu. Walau ia marah dengan
sikap dan kebohongan Gilang, tapi ia masih berharap bisa bahagia dengan pria
itu. Kini harapan itu pun harus ia lupakan. Hal ini benar-benar membuatnya
terpuruk. Ia mengurung diri di rumah kecilnya. Tidak ingin bertemu dengan
siapapun.
“Gea dengar
papa nak. Papa mohon sekali ini saja” ucap seorang pria paruh baya mengetuk
pintu rumah Gea namun tetap tidak ada sahutan. “Papa minta
maaf karena datang begitu lama. Papa bersalah Gea. Maafkan papa”
“Gea tolong
buka pintunya”
Setelah
sekian lama menunggu, Gea akhirnya menunjukkan wajahnya di hadapan pria
tersebut. Pria itu langsung memeluknya dengan erat.
“Gea maaf
papa terlambat. Selama ini papa terus cari kamu tapi orang-orang di panti
mengatakan mereka kehilangan kontak dengan kamu”
“Papa ke
panti?”
“Iya sayang.
Papa senang bisa bertemu kamu. Terimakasih karena sudah hidup dengan baik. Papa
akan lakukan apa pun untuk menebus kesalahan papa oke?”
Gea hanya
bisa mengangguk karena menahan tangis nya.
Dulu ia selalu berharap dapat pelukan seorang ayah. Dan saat hal itu
terjadi, ia begitu bahagia. Gea akhirnya pindah ke rumah papanya. Sebuah rumah
megah yang selama ini hanya ada dalam bayangan Gea.
Sementara Gilang yang sebenarnya masih
sangat berharap Gea memaafkannya, terus berusaha untuk dapat menemui Gea. Dia
datang ke rumah kontrakan Gea dan selanjutnya dia tau bahwa Gea sudah pindah.
Gilang merasa bahwa Gea masih berusaha menghindari dia. Gea masih marah sama
dia. Gilang yang awalnya berharap dapat menolak perjodohan dengan membawa Gea
pulang dan memperkenalkan kepada kedua orang tuanya kini hanya bisa pasrah.
“Malam ma,
pa” ucapnya saat tiba di rumah dan menemui orangtuanya
“Malam
sayang. Kamu kenapa? Wajah kok kusut begitu?” tanya Tante Ratna , ibu Gilang
“Cuma capek
aja ma. Gilang mau ke kamar dulu ya”
“Iya sayang.
Kamu mandi dulu ya biar mama siapin makan buat kamu”
“Makasih ma”
ucapnya seraya memeluk mamanya
Dia berjalan
lunglai menuju kamarnya. Sementara sepeninggal Gilang, pasangan suami istr itu
pun memulai pembicaraan serius tentang anak mereka.
“Pa, mama
takut kita terlalu keras sama Gilang”
“Maksud
mama?”
“Ya masalah
perjodohan itu pa. Mama merasa kita terlalu memaksa. Mama takut Gilang merasa
tertekan. Mama gak mau itu pa”
“Mama gak
usah khawatir tentang itu. Papa sudah pernah bicara sama dia. Dia setuju aja
tuh”
“Tapi mama
melihat anak kita gak bahagia pa”
“Nggak
bahagia gimana sih ma?”
“Mama merasa
ana kita terpakasa melakukan perjodohan ini pa. Dia mau kita bahagia dengan
mengikuti semua rencana kita.”
“Ya sudah
nanti kita bicarain lagi ya ma. Setelah dia makan”
Sang istri
pun mengangguk mengiyakan. Dan sesuai rencana, setelah Gilang menyelesaikan
makanannya, keluarga kecil itu duduk di ruang keluarga.
“Gilang gimana
dengan perjanjian kita kemarin?” tanya Om Bastian, papa Gilang
“Perjanjian?
Perjanjian apa pa? Kenapa mama tidak tau?”
“Ya ini
perjanjian antar pria ma. Kemarin Gilang datang menemui papa dan bilang kalau
sebenarnya sudah ada seorang gadis yang ia cintai dan menolak perjodohan ini.
Ya papa harus pastiin dong kalau anak papa nggak bohong. Makanya papa minta untuk
bawa gadis itu biar papa dan mama bisa kenal sama dia”
“Sayang
benar kamu udah punya pacar?” tanya tante Ratna kepada Gilang
“Iya ma.
Namanya Gea. Teman sekelas Gilang”
“Lalu kenapa
wajah kamu sedih begitu? Dea nya mana? Kenapa kamu nggak datang dengan Gea?”
“Gilang udah
putus sama dia ma. Tepat di hari papa mengumumkan perjodohan itu”
“Dia tau
kamu akan dijodohkan?”
“Iya ma”
“Pasti
karena itu dia minta putus sama kamu”
“Sebenarnya
bukan ma. Dia marah sama Gilang karena Gilang udah bohongin
dia”
“Bohong?
Bohong apa sayang? Coba jelaskan sama mama”
“Ya semenjak
Gilang pindah sekolah, Gilang udah tertarik sama dia karena dia itu beda dengan
cewek yang lain. Dia sangat mandiri dan baik ke semua orang. Tapi dia gk suka
sama orang kaya ma. Dia punya pengalaman buruk dengan hal-hal yang menyangkut
kekayaan. Orangtuanya meninggalkan dia di panti asuhan karena alasan harta warisan.
Dan saat di panti asuhan pun, dia dan keluarganya di panti harus merasakan
ketidakadilan dari orang berduit. Karena
alasan itu, akhirnya Gilang bohong sama dia ma. Karena Gilang mau dekat sama
dia, akhirnya Gilang menciptakan cerita bahwa keluarga kita hidup seadanya. Bahkan
waktu dia mulai curiga sama Gilang setelah ketahuan ketemu sama papa, aku
dengan sengaja mengajak dia ke rumah pak Asep, supir papa dengan tujuan dia
percaya sama semua cerita Gilang”
“Dan
sekarang dia tau semuanya danmenghindar dari kamu?” tanya om Bastian
“Iya pa.
Setelah dia tau bahwa selama ini Gilang bohong sama dia, dia minta putus dan
menyarankan Gilang untuk menerima perjodohan itu”
“Lalu kenapa
wajah kamu begitu putus asa. Kamu tau kan itu kesalahan kamu?”
“Iya pa
Gilang tau”
“Papa gak
akan paksa kamu dengan perjodohan ini. Semua keputusan ada di tangan kamu”
“Makasih pa”
Dan masalah
perjodohan teratasi untuk Gilang. Tapi lain halnya dengan Gea yang baru saja ketemu papanya.
Ketika papanya membicarakan perjodohan, dengan cepat Gea menolak. Karena dia
masih ingin menenangkan hati dan pikirannya setelah berpisah dengan Gilang. Dan
papanya pun hanya bisa mengikuti keputusan putri semata wayang nya yang bau saja ditemukan.
Saat waktu yang ditentukan untuk kedua keluarga itu
bertemu dalam sebuah jamuan makan malam, Gilang yang sebenarnya menolak
perjodohan pun tetap datang untuk memberikan kesan baik pada keluarga teman
papanya tersebut. Semua sudah berkumpul kecuali wanita yang akan dijodohkan
dengan Gilang.
“Maaf putri
saya akan sedikit terlambat. Sebaiknya kita mulai saja”
“Iya saya
setuju Bram” ujar om Bastian kepada temannya
“Saya minta
maaf karena sepertinya perjodohan ini harus dibatalkan. Anak saya tiba-tiba
menolak untuk dijodohkan” ucap om Bramantio
“ Wah
kebetulan sekali Bram. Gilang juga sebenarnya menolak perjodohan ini”
“Oke
baiklah. Karena kita sudah sepakat, jadi perjodohan ini akan dibatalkan. Dan
sekarang mari kita nikmati hidangan malam ini sebagai teman lama”
Mereka semua
menyantap hidangan yang ada saat seorang gadis belia melangkah masuk ke ruangan
tersebut.
“Gea sayang
kemari” panggil om Bram kepada gadis tersebut
Mendengar
nama Gea disebut, Gilang langsung mencari sekeliling dan betapa kagetnya dia
mendapati gadis yang selama ini ia rindukan berdiri di hadapannya.
“Gea..”
ucapnya lirih
“Kalian
sudah saling kenal?” tanya om Bram
“Gilang kamu
sudah kenal sama putrinya om Bram?” tanya tante Ratna
“Jadi ....”
Gilang tidak sanggup menyelesaikan ucapannya
“Iya. Dia
anak om. Namanya Gea” ucap om Bram
“Hallo om ,
tante” sapa Gea
Orang yang
di sapa hanya tersenyum untuk membalas sapaan Gea. Mereka lantas melanjutkan
makan malam mereka. Namun tiba-tiba
Gilang memulai pembicaraan mereka.
“Om apa
perjodohannya masih bisa dilanjutkan?”
Semua orang
termasuk Gea sangat kaget mendengar permintaan Gilang yang sangat tiba-tiba.
“Kenapa?
Kamu berubah pikiran setelah melihat anak om yang cantik ini?”
“Apa dia
orang yang kamu maksud kemarin?” tanya tante Ratna
Gilang
mengangguk mengiyakan."Sebenarnya sebelum perjodohan ini saya dan Gea pacaran
om. Tapi beberapa hari belakangan ini hubungan kami sedang tidak baik. Anak om
kabur terus dari saya”
“Saya tidak
bisa berkata apa pun. Bagaimana saya harus menjelaskan. Keputusan bukan di
tangan saya tapi pada Gea. Saya baru bertemu dengannya setelah terpisah 16
tahun. Dan saya akan melakukan apa pun untuk membahagiakan putri saya. Jadi
sebaiknya masalah ini diselesaiakan oleh kalian berdua”
Gilang
menatap Gea yang sedari tadi diam. “Gea..?”
Gea masih
saja diam. Bahkan tidak mau beradu pandang dengan siapapun.
“Gea
sayang...” ucap om Bram sangat lembut dan penuh kasih
“Kita udah
sepakat tidak akan membahas masalah ini lagi kan pa” tukas Gea dengan sangat
tegas
“Apa kamu
sebegitu marahnya dengan anak tante?”
Pertanyaan
itu berlalu begitu saja tanpa jawaban. Semua orang di ruangan itu diam tanpa
kata.
“Gilang kamu
jelasin semuanya dong sayang kalau kamu melakukan itu karena kamu sayang sama
Gea. Kamu cuma mau dekat sama dia”
“Oh ya? Coba
kamu jelaskan bagaimana kamu membohongi anak saya” tukas om Bram
“Bagaimana
om bisa tau?” tanya Gilang
“Gea udah
cerita semuanya sama om. Tapi om merasa cerita kamu dan versi Gea akan sedikit
berbeda”
“Papa..”
“hahaha maaf
sayang. Papa Cuma pengen tau cerita sebenarnya”
“Cerita
sebenarnya??”
“Iya. Om
sudah dengar masalah kamu dengan Gea di hari om jemput dia. Dan kesimpulan yang
bisa om ambil yaitu bahwa anak om sangat mencintai kamu”
"Papa..."
Orang yang dipanggil hanya terrsenyum melihat kelakan putri kesayangannya itu
"Papa..."
Orang yang dipanggil hanya terrsenyum melihat kelakan putri kesayangannya itu
“Om yakin?”
tanya Gilang dengan wajah berseri
“Ya sangat
yakin. Menurut mu kenapa dia mau datang malam ini? karena dia tau ada kamu”
“Kalau gitu
perjodohannya?”
“Iya Gilang.
Papa dan om Bram memang sengaja tetap melaksanakan makan malam ini. Setelah
kamu memutuskan menolak perjodohan ini dan mulai cerita tentang Gea, papa
menemukan benang merah. Papa lantas meminta om Bram untuk memberitahu Gea siapa
yang akan dijodohkan dengan nya”
“Dan kamu
tau. Gea yang awalnya menolak keras perjodohan ini, tiba-tiba berubah pikiran
setelah om menyebutkan nama papa kamu. Sepertinya dia menangkap umpan yang om
berikan.Dia lantas setuju untuk datang pada makan malam ini buat ketemu kamu”
“Jadi
perjodohan ini dilanjutkan?”
“Tidak”
sahut Gea “Bukankah kamu menolak perjodohan ini?”
“Itu kemarin
sebelum aku tau kalau itu kamu. Lagian aku menolak perjodohan ini kan karena
aku tetap pengen sama kamu” jelas Gilang panjang lebar. Dia lantas mendekati
Gea dan berhenti di hadapan gadis yang sangat di cintainya itu.
“Sekarang
kita baikan?” ucap Gilang seraya mengacungkan jari kelingking nya. Gea
menautkan kelingking nya dengan Gilang yang menandakan mereka baikan. Gilang
lalu memeluk Gea di depan kedua orang tua mereka. Semua yang ada di ruangan itu
lantas tertawa bahagia melihat kebahagiaan buah hati mereka. Karena tidak ada
hal yang lebih membahagiakan dari kejujuran. Jujur akan hati kamu. Karena cinta
butuh kejujuran.
Komentar
Posting Komentar