CINTA BUTUH KEJUJURAN



Cahaya senja sore itu begitu damai membuat seorang gadis semakin larut dalam lamunanya. Wajahnya semakin cantik saja di bawah sinar jingga itu. Wajah cantik itu terlihat  sedang menerawang nan jauh di sana. Pikirannya terbang jauh, kembali ke beberapa waktu silam saat masa kecilnya di Panti Asuhan Harapan Baru. Ia ingat bagaimana ia tinggal saat itu, penuh kebahagiaan bersama saudara- saudari yang memiliki nasib yang sama dengannya.  Hidup tenang dan penuh sukacita. Betapa bahagianya hidup bersama mereka sebelum bencana itu datang. 


Wajah cantik itu tiba-tiba berubah muram ketika ia ingat kejadian malam itu saat ia dan seluruh keluarganya di panti di usir dari rumah yang mereka tinggali. Pasalnya rumah yang mereka tinggali adalah milik seorang rentenir rakus di kampung itu. Akibatnya ia harus berpisah dengan teman-temannya yang sudah ia anggap sebagai saudaranya. Dengan langkah gontai, gadis cantik itu berjalan menyusuri jalanan. Berjalan tanpa tujuan yang pasti. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang kakek tua yang berjalan tertatih dan sepertinya sedang tersesat. Ia pun akhirnya mendekati kakek itu dan membantu kakek untuk pulang ke rumah.  Sesampainya di rumah si kakek, pak Hasan anak kakek menawarkan tempat tinggal untuk gadis itu.  Dari sana dimulailah perjuangan yang sebenarnya.


Kenalin nama gadis itu Gea. Sekarang menempuh pendidikan di SMA Harapan, sebuah sekolah elit  dan ternama di Jakarta. Masuk dengan jalur beasiswa tidak membuatnya minder sedikit pun tapi dia justru merasa bangga bisa berada di sekolah ini. Hal itu sudah dibuktikan selama setahun ia menempuh pendidikan di sini. Bukan menyombongkan diri tapi dia  selalu mendapat nilai tertinggi. Bukan hanya akademik di sekolah tapi dia juga sering mengikuti perlombaan mewakili Sma Harapan. Bagi dia itu  menyenangkan dan membanggakan. 


Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah sekian lama siswa siswi menghabiskan waktu liburan mereka. Seperti biasanya, Gea menggunakan sepatu rodanya untuk berangkat ke sekolah. Ya selain menghindari macet juga untuk tujuan penghematan biaya hidup. Maklum saja setelah berpisah dengan keluarganya di panti asuhan, dia harus hidup sendiri dan berjuang demi sesuap nasi untuk bertahan hidup. Gea bekerja paruh waktu di bengkel pak Hasan. Anak dari kakek yang pernah ditolong dulu. Selain itu , setiap pagi dia akan menjadi pengantar bunga. 

Dan hari ini dia sedikit kesiangan berangkat sekolah karena harus menyelesaikan beberapa tugas untuk mengantar pesanan bunga. Dengan sekuat tenaga dan keseimbangan tubuh yang bagus, sepatu rodanya meluncur dengan baik dan kencang sampai tiba-tiba di gerbang sekolah dia kehilangan keseimbangan dan tanpa sengaja menabrak seseorang yang baru saja turun dari mobil. Bruukkk.. Gea dan orang yang ditabraknya terjatuh di jalanan. 


“Hei liat gak sih ada orang. Makanya kalau jalan itu jangan meleng” bentak orang itu seraya berdiri. Dan sepertinya dia kaget mengetahui bahwa yang ada di hadapannya sekarang adalah seorang gadis cantik.


Gea segera berdiri dan merapikan seragamnya. Gea menghadap orang tersebut dan  kaget melihat siapa yang ada saat itu berhadapan dengannya. Seorang cowok ganteng dengan kulit putih dan postur tubuh ideal. 


“ Maaf aku gak sengaja” sahutnya dengan terbata


“Maaf maaf. Untung aja gue buru-buru. Kalau nggak...”


“kalau nggak kenapa hah?”


Cowok itu melangkah pergi tanpa membalas ucapan Gea. Gea juga segera beranjak karena memang sudah hampir terlambat masuk kelas. Dengan sedikit berlari, dia menuju kelasnya di 2A. Kelas buat anak-anak unggulan dengan nilai terbaik. Dia mengetuk pintu saat melihat kalau Bu Melia, guru Matematika udah masuk. 


“Masuk” sahutnya dari dalam kelas


Gea masuk dan berhenti di depan kelas, sejajar dengan bu Melia yang saat itu sedang duduk di kursinya. 


“Gea, kamu tau salah kamu apa?”


“Iya tahu bu. Harusnya saya tidak terlambat”


“Untung kamu pintar di pelajaran saya. Kalau tidak kamu akan saya hukum”


“ “Iya bu maaf. Lain kali tidak akan telat lagi”


“Sebelumnya juga kamu bilang begitu. Ya sudah silahkan kembali ke tempat duduk kamu”

“Makasih bu” 


Dia melanjutkan langkah menuju tempat duduk nya sampai akhirnya melihat sesuatu yang aneh. Seseorang menempati tempat duduknya Dan... “what?? Pria yang aku tabrak di gerbang tadi? Pria yang sombong itu? Kenapa dia duduk di meja yang sama dengan ku?” tanya Gea dalam hati


Melihat Gea berhenti, bu Melia bertaya dan Gea hanya beralasan tidak jelas dan mengambil tempat yang kosong di sebelah kanan cowok itu. “Kenapa hari ini aku begitu sial?” batin Gea. Berada satu meja dengan dia seakan musibah dalam hidup Gea. Di tambah lagi wali kelas memintanya untuk membantu dia belajar materi yang terlewat. Hari ini Gea begitu tidak bersemangat karea siswa baru itu. Bahkan saat di kelas juga tak ada sepatah kata pun yang Gea ucapkan padanya dan begitu juga sebaliknya. Beberapa hari berlalu. Tidak ada yang berubah dari mereka. Sampai suatu hari, Gea sedang duduk di kelas dan Evan datang mengacaukan susasana saat itu. 


“Gea...”


“Kenapa?” sahut Gea


“Ikut gue” sahutnya seraya menarik pergelangan tangan Gea dengan paksa


“Kenapa gue harus nurut sama lo. Lepasin gue” Gea menghentakkan tangannya yang sudah terasa sakit


“ Lo ikut gue sekarang juga. Jangan sampai gue maksa”


“Lo pikir apa yang lo lakuin barusan bukan pemaksaan? Gue gak mau. Kalau lo mau ngomong, disini aja”


“oke. Gue mau nanya apa lo benar-benar gak tertarik buat ikut lomba esay mewakili sekolah?”


“Gue gak tertarik. Harus berapa kali sih gue bilang sama lo kalau gue gak minat sama sekali tentang lomba itu”


“ Lo bilang apa, gak tertarik? Gak berminat buat ikut lomba? Bulshit tau gak. Munafik lo”


“Eh maksud lo apa hah?”


“Lo bilang gak tertarik. Tapi kenapa nama lo ada di mading sebagai perwakilan sekolah buat lomba esay hah? Kenapa? Jawab gue” suara Evan meninggi karena menahan emosi yang mulai terbakar. Sementara anak-anak yang saat itu berada di kelas juga mulai menjauh dari aku dan Evan. Dan saat itu, Gea melihat dia datang, cowok jutek di gerbang sekolah itu dan diikuti kedatangan orang yang paling dibenci oleh Gea di sekolah ini,  Miko, cowok yang sering cari masalah sama Gea.  Tapi melihat kemarahan Evan dan juga pandangan heran dari semua anak-anak, dia mulai bicara lagi sama Evan. 


“Gue gak tahu apa-apa soal itu Van”


Dia tertawa dan menatap Gea dengan tajam.


“Hah lo kira gue percaya sama omongan lo?. Lo selalu bilang gak tahu apa-apa tapi lo selalu berhasil jadi perwakilan sekolah. Hebat banget Gea. Lo emang nomor satu di sekolah ini ya”


“Van gue serius. Gue gak tahu apa-apa”


“Lo harus sadar kalau Gea emang hebat Van” sahut Miko dari jauh. Dia memberikan senyum mengejek kepadaku. ” Dia akan selalu terpilih tanpa test atau semacamnya. Lo harus relain dia menang”


“Diam Miko. Tau apa lo?”Bentak Gea


“Gue tau apa? Lo tanya gue tau apa? Apa lo gak salah nanya Gea? Gue tau segalanya tentang lo. Dan gue juga tau kalau dari awal lo udah di tawarin buat ikut lomba ini.”


“Munafik lo Ge. Pembohong tau nggak“ 


Evan berlalu meninggalkan kelas. Namun urusan gue dan Miko belum selesai.


“Gimana rasanya dipermalukan nona genius? Kamu sakit hati?” ucapnya penuh kemenangan


“Jangan senang dulu Miko. Lo belum menang”


“Oke. Aku tunggu pertarungan selanjutnya”


Miko dan kedua temannya melangkah meninggalkan kelas. Dan aku juga meninggalkan kelas menuju ruang guru untuk bertemu dengan guru sastra.


“Saya tau kamu akan datang Gea”


“Saya tidak pernah mendaftar untuk ikut lomba bu”


“Ibu tau”


“Dan saya juga tidak akan ikut lomba itu bu”


“Ibu juga tau itu”


“Lalu kenapa nama saya ada di mading bu? Bagaimana bisa saya mewakili sekolah? Sementara ada orang yang sangat menginginkan hal itu”


“Gea, ibu tau kenapa kamu tidak mendaftarkan diri dalam lomba ini. Dan ibu senang dengan keputusan kamu. Sekarang tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi kan?”


“Jadi maksudnya  ibu sengaja buat...”


“Iya Gea”


“Makasih bu. Kalau begitu Gea ijin kembali ke kelas ya”


Bu Dita tersenyum dan mengangguk ramah. Masalah selesai dan Gea bisa tenang lagi. Dia kembali ke kelas yang ternyata tidak ada pelajaran karena guru Olahraga berhalangan hadir. Sehingga saat itu kelas kosong. Dan untuk pertama kalinya, dia bicara pada Gea.


“Hallo gue Gilang” sahutnya mengulurkan tangannya dan memberikan senyuman


“Oh hi Gea”


“oh iya soal di gerbang kemarin, maaf”


“Oh it’s oke”


Gea melangkah keluar ruangan dan menuju perpustakaan. Memang Dia sudah melupakan masalah di gerbang kemarin, tapi melihatnya bersama Miko hari ini membuat Gea marah. Ada hubungan apa dia dengan Miko?


                                      *****

Pagi itu Gea menemukan setangkai bunga mawar putih terletak begitu saja di meja. Tak ada tanda-tanda pengirimnya. Hanya setangkai mawar putih yang begitu mekar. Gea meraihnya dan tersenyum. Yah dia memang suka banget sama mawar dan akan senang banget setiap dapat hadiah mawar. Tapi siapa yang kasih bunga sepagi ini sama dia? Sedangkan pagi itu kelas masih sepi banget. 

Selama 5 hari berturut-turut Gea mendapat hadiah yang sama. Mawar putih di setiap pagi. Tapi sampai saat ini dia masih belum bisa mengetahui siapa sosok di balik semua kejutan ini. Siapa yang menyiapkan kejutan sepagi itu. Dia sedikit curiga sama Evan karena masalah lomba kemarin. Apa Evan ngelakuin ini karena Gea  mengundurkan diri dan mengajukan Evan untuk mewakili sekolah?


“Buat apa Evan ngelakuin itu?” sahut Maya, sahabat perempuan Gea satu-satunya. Dia selalu ada setiap saat. Kapan pun dan dalam kondisi apapun.


“Yah bisa aja dia merasa bersalah karena waktu itu udah marah-marah dan salah paham sama aku”


“Tapi kenapa aku malah curiga ke Gilang ya?”


“Bisa sih. Tapi kenapa dia ngelakuin ini. Gue malah udah lama banget gak ngobrol sama dia"


“Iya juga sih. Dia gak punya alasan buat ngelakuin hal konyol kaya gini”


“Aaah gue pusing May”


“Tenang Ge. Gue bakal bantu lo. Besok pagi loe datang jam setengah 6 ke sekolah. Kita ketemu depan kelas”


“Buat apa?”


“Kita bakal nangkap pelakunya langsung. Gue juga penasaran banget siapa orangnya”


“Oke. Sampai ketemu besok ya”


Dan hari itu, rencana pun di mulai. Gea akan ikuti saran dari Maya untuk menangkap pelakunya secara langsung. Dia begitu bersemangat. Keesokan harinya, dia datang lebih awal dari biasanya. Jam 5.30 dia udah sampe di sekolah persis seperti rencana Maya. Gea dan Maya akhirnya menuju ruang kelas dan bersembunyi di pojok ruangan. Cukup lama mereka menunggu namun tidak ada yang datang. Gea melihat arloji dan ternyata mereka sudah menunggu hampir 30 menit dan tidak mendapatkan hasil apapun. Gea mulai menyerah ketika tiba-tiba ada yang datang. Dia kaget begitu melihat Gilang berjalan ke tempat duduk nya dan meletakkan mawar putih di meja. Lalu dia duduk di tempat duduknya, meletakkan ransel dan berjalan keluar. Gea dan Maya juga keluar dari persembunyian dan segera keluar ruangan.


“Benar dugaan gue. Itu Gilang”


“Yah lo benar. Lalu sekarang gue harus apa? Gue nggak ngerti kenapa dia ngelakuin itu. Kenapa dia kasih gue mawar? Kenapa dia mencoba buat gue senang?”


“Untuk sekarang lo tenang dulu. Jangan sampe Gilang tau kalau lo udah tau semuanya oke ?”


“Yah. Gue masuk dulu May”


Gea berjalan meninggalkan Maya kerana mereka memang nggak sekelas. Gea masuk kelas dan menemukan anak-anak sudah mulai rame dan dia juga ada di sana. Iya dia, cowok yang buat Gea marah tapi buat dia senang juga karena semua kejutannya. Anak- anak memandang Gea dan melemparkan senyuman mereka.


“Cieee Gea dapat mawar lagi tuh. Sepertinya dari penggemar rahasia kamu lagi” seseorang berpendapat. Aku tersenyum dan menempatkan diriku di samping Gilang.


“Hi pagi” sahutnya melambaikan tangan


“Oh pagi” jawab Gea tak bersemangat


“Kamu kenapa? Sakit? Kamu kelihatan capek banget”


“Oh nggak kok. Cuma kurang istirahat aja mungkin.”


“I see”


“Gilang aku mau nanya sesuatu boleh?”


“Sure”


“Lo kan selalu datang lebih awal dari gue. Apa lo pernah liat orang yang selalu kasih gue mawar?”


“Gue gak pernah lihat tuh. Setiap kali gue datang, mawarnya udah ada di meja lo”


“oke thanks”


“You’re welcome”


Gimana pun cara buat pura-pura gak tahu, Gea nggak bisa menahan perasaannya lagi. Dia harus ngomong sama Gilang. Kenapa dia melakukan semua itu padanya.


“Gilang... gue mau ngomong sama lo”


“Oke. Ngomong aja”


“Tapi bukan di sini. Gue mau kita ngomong hanya berdua”


Dia menatapku penuh tanya.” Kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?”



“Ikut gue”


Gea keluar ruangan dan diikuti oleh Gilang. Gea membawa Gilang ke atap sekolah. Untuk sementara semua diam tanpa sepatah katapun. 

“Kamu mau bicara apa Gea? Bukan kah harusnya sekarang kita kembali ke kelas dan ikut pelajaran terakhir?”

“Awalnya gue mau pura-pura nggak tahu. Tapi gue gak bisa”

“Maksud lo apa Ge?”

“Gue mau nanya lo sekali lagi. Apa lo tahu siapa orang yang kasih gue bunga setiap pagi?”

“Gue kan udah jawab. Gue gak tau apa-apa Gea”

“Gue mohon lo jujur sama gue. Gilang please”

“Gue gak bohong kok. Gue beneran gak tahu”

“Lo yakin gak tahu apa-apa? Lalu kenapa tadi pagi lo datang lebih awal dan letakin mawar di meja gue?”

“Kayanya lo salah orang deh. Itu bukan gue. Lagian buat apa gue ngelakuin hal kaya gitu”

“Gue ngajak lo bicara berdua untuk alasan itu Gilang. Gue pengen tahu kenapa lo lakuin itu ke gue. Please jujur sama gue”

“ Oke gue ngaku kalau memang gue yang naro mawar ke meja lo tiap pagi. Karena gue mau minta maaf sama lo”

“Tentang?”

“Semuanya. Tabrakan kita di gerbang sekolah sampai tentang Miko”

“Gue udah lupain masalah itu juga kok”

“Jadi lo maafin gue kan?”

“Yap. Gak ada alasan gue gak maafin lo?”

Setelah kejadian itu, Gilang jadi semakin dekat dengan Gea. Mereka jadi sering  mengobrol dan juga pulang bareng. Awalnya Gea menolak tapi dia tetap melakukannya. 

“Gea gue antar ya”

“Hah? Gak usah. Gue pulang sendiri aja”

“Gak baik tau menolak kebaikan orang lain. Ayo naik”

Dan lagi lagi Gea menurut. Dia naik ke mobil Gilang yang sejujurnya baru pertama kali ia lihat. Ada yang aneh. Selama ini yang dia tau adalah Gilang anak seorang Sopir dan kehidupannya sangat sederhana. Gea bahkan masih ingat beberapa waktu lalu saat Gilang ngajak makan bareng di luar. 

“Gea kita makan di pinggir jalan begini gak papa kan?”

“Iya gak papa kok. Malah aku seneng”

“Kenapa?”

“Iya. Aku biasa makan di pinggir jalan begini. Aku bisa lebih dekat dengan para pedagangnya. Aku jadi tahu kehidupan mereka. Dan karena itu aku nggak akan merasa hidup aku yang paling menderita. Aku bisa berkaca dari mereka.”

“Aku kagum sama kamu Ge.”

“Kenapa?”

“Ya kamu bisa punya pemikiran positif seperti itu. Sementara masih banyak orang di luar sana yang selalu menyalahkan kehidupannya yang dianggap buruk”

“Lalu gimana sama kamu?”

“Aku? jujur aja aku juga sering mengeluh tentang hidup aku. Tapi setelah aku ketemu kamu, sedikit demi sedikit aku mulai mengerti arti kehidupan”

“Bagaimana dengan kehidupan kamu?”

“Hidup aku biasa aja. Gue terlahir di tengah keluarga yang untuk bertahan hidup saja harus bekerja di bawah perintah orang lain. Jangankan untuk biaya sekolah, kadang untuk makan saja susah. Tapi setelah bapak kerja jadi supir, hidup kita sedikit lebih baik karena bapak sudah ada penghasilan tetap.”

“Tapi kamu masih enak punya orangtua” ucap Gea dengan wajah murung

“Kenapa tiba-tiba kamu bicara begitu?”

“Iya kamu harus bersyukur punya orang tua. Sedangkan aku, dari kecil aku sudah dibuang ke panti asuhan. Lalu setelah umur 16 tahun aku dan keluarga aku di panti diusir secara paksa oleh suruhan orang-orang berduit”

“Jadi karena itu lo benci sama orang kaya?”

“Bukan cuma karena itu. Aku pernah dengar cerita dari ibu panti bahwa orangtua aku pergi dan meninggalkan aku karena uang. Mereka ngejar kekayaan dan menelantarkan anak mereka” Ucap Gea dengan air mata

Perlahan Gilang memeluknya dan mengelus lembut kepala gadis itu berusaha untuk menenangkannya.

“Udah Gea. Kamu jangan nangis lagi. Kamu bisa ngandalin aku saat ini. cari aku kalau kamu butuh. Oke ?”

Gea mengangguk mengiyakan apa yang Gilang ucapkan. Entah mengapa ada perasaan hangat dan nyaman ketika Gilang memeluknya. Gea merasa tidak ingin melepas pelukan itu. Tapi ia tau hal itu salah. Dia bukan siapa-siapa bagi Gilang. Just a friend.

“Makasih Gilang”

Ingatan itu masih membekas dalam ingatan Gea. Sehingga saat Gilang mengajak Gea pulang dengan sebuah mobil membuat Gea merasa ada yang aneh. Sepertinya ada sesatu yang ia tidak tahu tentang Gilang.  

“Eh ini mobil siapa?”

“Hah? Oh ini mobil Miko” Jawab Gilang mulai gugup

“Kamu kenapa?”

“Nggak kok. Aku Cuma gugup aja duduk di dekat cewek cantik” ucapnya dengan ekspresi yang lucu

“Ih apaan sih. Dasar gombal”

“Lah kok gombal sih. Bener tau. Kalau gak percaya nih rasain detak jantung aku makin cepat”

Gea dengan sontak tertawa mendengar ucapan Gilang.

Siang itu mereka tidak langsung pulang. Tapi Gilang membawa Gea ke sebuah taman bermain. Disana Gilang mengucapkan bagaimana perasaan nya untuk Gea. Mendapat pernyataan cinta dari cowok ganteng itu membuat Gea tidak bisa berkata apa-apa. Dia kaget mendengar Gilang memintanya untuk menjadi pacar. 

“Kok kamu diam aja Ge?”

“Bentar aku masih belum sadar dari rasa kaget aku”

“Gue nggak bisa menunggu lama Gea. Gue...”

“Iya gue mau” Jawab Gea tanpa menunggu Gilang menyelesaikan ucapannya

Gilang menatap Gea untuk meyakinkan dirinya kalau ia tidak sedang bermimpi. Gea lantas memeluknya dengan erat dan mengatakan kalau dia mau jadi pacar Gilang. Begitu juga Gilang yang membalas pelukan Gea. 

“Makasih Gea. Aku janji akan selalu buat kamu bahagia”

          Setelah resmi pacaran, kedekatan mereka semakin bertambah. Setiap hari selalu bersama dan sejauh ini tidak ada yang berubah sampai suatu hari saat pulang sekolah, Gea melihat Gilang di depan sebuah rumah mewah sedang berbicara dengan sepasang suami istri. Dari jauh Gea mengamati dengan seksama. Dia melihat Gilang naik dan mengendarai sebuah mobil mahal. Dan Gea tau itu bukan mobil Miko. Sejak saat itu Gea mulai curiga pada Gilang. Dia curiga bahwa selama ini ada hal yang Gilang sembunyikan darinya. Sampai saat di sekolah beberapa hari kemudian, Gea memberanikan diri untuk bertanya pada Gilang.

“Gilang aku mau nanya sesuatu boleh?”

“Boleh dong. Apa sih yang nggak buat pacar aku”

“Kamu gak lagi nyembunyiin sesuatu kan dari aku?”

“Kenapa kok kamu nanya begitu?”

“Hmmm sebenarnya 2 hari yang lalu aku liat kamu di rumah Om Bastian. Dan aku juga liat waktu kamu naik mobil mewah itu”

“Ya ampun jadi karena itu kamu curiga sama aku. Aku pernah kan cerita sama kamu kalau bapak aku kerjanya supir. Nah Pak Bastian itu majikannya. Kemarin bapak nggak bisa masuk jadi aku yang gantiin”

“Kamu nggak bohong kan?”

“Ya nggak dong. Kamu nih ada- ada aja deh. Biar kamu yakin, nanti kamu ikut aku ke rumah ya” ucap Gilang seraya mengelus lembut rambut gadis yang dicintainya itu. Namun dalam hati ia merasa bersalah telah berbohong. 

          Sesuai dengan apa yang telah direncanakan, Gea dan Gilang menuju sebuah rumah dengan bangunan sederhana. Ya Gilang mengajak Gea ke rumah Bibi yang bekerja di rumah Gilang. Di sana ada seorang anak kecil yang kira-kira berusia 10 tahun.

“Mas Gilang ngapain...” 

Gadis kecil itu belum menyelesaikan ucapannya ketika Gilang dengan cepat menutup mulut anak itu melarang dia untuk bicara.

“Ibu ada?” tanya Gilang kemudian

“Belum pulang. Mungkin nanti malam”

“Oh iya kenalin ini pacar mas. Namanya ka Gea”

“Hallo mbak Gea. Nama saya Deva”

“Oh hallo Deva. Kamu lucu banget” ucap Gea seraya mencubit kecil pipi gadis itu

Deva lalu masuk kamar dan begitu juga Gilang. Dia Meminta Gea menunggu di ruang tamu seraya ia berganti pakaian. Gea menurut dan selama di ruang tamu, ia mengamati keadaan rumah itu. Ya memang sederhana dengan perabotan yang sangat terbatas. Tapi Gea merasa ada yang aneh. Dia tidak menemukan satu pun foto Gilang. Yang ada hanya foto Deva dengan orangtua mereka. Saat itu entah mengapa kecurigaan Gea semakin meningkat. Ia yakin Gilang telah berbohong padanya. Dan saat Gilang keluar kamar menemui Gea, ia terlihat buru-buru.

“Gea sayang maaf ya. Aku harus pergi. Ada sesuatu yang terjadi dengan Bapak. Jadi aku harus ke sana”

“Kemana? Aku ikut ya?”

“Nggak. Kamu mending pulang aja. Maaf aku gak bisa anterin kamu pulang ya. Aku pergi dulu” ucapnya seraya mengecup kening Gea yang membuatnya berdiri mematung untuk beberapa saat. 

          Tanpa sepengetahuan Gilang, Gea ternyata mengikutinya. Dan Gea sangat kaget saat mendapati Gilang masuk ke rumah Om Bastian, seorang pengusaha kaya yang cukup terpandang saat ini dan dia merupaka orang yang sangatdihargai di kompleks ini.

“Untuk apa Gilang masuk ke sana?” tanya Gea pelan. 

Ia jadi teringat ucapan Gilang bahwa ayahnya bekerja di sana. Tapi saat Gea mengamati rumah itu dari jauh, ia melihat Om Bastian turun dari mobil, masuk ke rumah dan beberapa menit kemudian keluar lagi bersama Gilang dan juga Tante Ratna, istri om Bastian. Mereka bertiga masuk mobil dan kemudian meninggalkan pelataran rumah mewah itu. Gea semakin penasaran dan akhirnya memanggil ojek untuk mengikuti mobil itu. Ternyata mobil itu berhenti di depan sebuah perusahaan ternama milik om Bastian, Tanoto Grup. Setelah mereka masuk, Gea mendekat dan mulai bertanya kepada pegawai di sana tentang ketiga orang tersebut dan betapa kagetnya Gea ketiak mengetahui bahwa ternyata Gilang adalah anak Om Bastian dan Tante Ratna.

“Oh itu tuan muda. Dia anak satu-satunya pak Bastian ketua komisaris perusahaan ini”

Seperti tersambar petir, Gea seakan tidak bisa mengatasi kekagetannya. Jadi selama ini Gilang bohong?untuk apa?

Sore itu Gea memutuskan untuk pulang ke rumah kontrakan kecilnya. Ia ingin segera terlelap dan melupakan Gilang. Tapi semakin ia berusaha melupakan, ia semakin merasa sakit. Perlahan air matanya jatuh membasahi pipi putihnya. Ia benar-benar merasa dihianati oleh Gilang. Tapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Dan Gea menemukan pria paruh baya sedang berdiri di depannya. Menatapnya dengan mata sayu.

“Anakku Gea. Ini papa nak”

“Ih bapak apa-apaan sih pak. Siapa anak bapak. Orang ayah saya sudah meninggal kok”

“Gea ini papa. Maafin papa selama ini ninggalin kamu. Papa udah nyari kamu kemana-mana sayang tapi papa baru ketemu kamu sekarang”

“Sebaiknya bapak pergi karena saya tidak kenal bapak dan papa saya sudah meninggal “ ucap Gea seraya menutup pintu. Namun pintu belum tertutup karena di tahan oleh sang bapak. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

“Kamu ingat ini Gea?” dia menunjukkan sebuah cincin yang di dalamnya ukiran nama mereka bertiga. Papa, mama dan Gea. cincin itu persis dengan milik Gea.

“Saya tidak tau bapak siapa. maaf” Kali ini Gea benar-benar menutup pintu. Pikiran dia berkecamuk. Apa yang harus ia lakukan saat ini.

          Keesokan harinya, Gea sengaja menemui Gilang dan menyatakan ingin mengakhiri hubungan mereka.

“Aku mau kita putus Lang”

“Gea kenapa tiba-tiba ? Kamu sadar kan sama apa yang sedang kamu ucapkan?”

“Ya sangat sadar. Aku mau putus karena pacar yang sangat aku sayangi ini gak bisa jujur sama aku. Pacar yang aku percayai ternyata hanya berpura-pura susah karena kasihan sama aku. Pacar yang ternyata anak seorang pengusaha ternama”

“Gea dengarin aku. Aku memang udah bohong sama kamu. Tapi itu karena aku sayang sama kamu Gea. Karena aku ingin bersama kamu. Karena aku tau hal itu gak akan terjadi kalau kamu tau aku anak siapa”

“Aku putus sama kamu bukan karena kamu anak om Bastian. Tapi karena kamu udah bohong sama aku. Kamu tau kan aku sangat gak suka sama pembohong”

“Tapi Gea...”

“Mulai saat ini kita gak ada hubungan lagi”

Gea melangkah pergi dan kemudian berhenti melangkah mendengar ucapan Gilang.

“Aku dijodohin Ge. Sama anak teman papa. Tapi aku akan menolak perjodohan ini Gea. Jadi aku mohon jangan tinggalin aku”

“Pasti wanita yang dijodohkan sama kamu itu anak orang kaya. Yang mempunyai dunia yang sama kaya kamu. Kamu sebaiknya menerima perjodohan ini”

“Tapi aku gak cinta sama dia. Aku Cuma cinta sama kamu Gea”

Tanpa menghiraukan Gilang, Gea pergi.  Hatinya hancur saat ini. Bukan hanya karena masalah kebohongan Gilang tapi juga karena kabar tentang penjodohan. Ia benar-benar harus merelakan Gilang walaupun sebenarnya hatinya tidak ingin melepas pemuda yang sangat dicintainya itu. Walau ia marah dengan sikap dan kebohongan Gilang, tapi ia masih berharap bisa bahagia dengan pria itu. Kini harapan itu pun harus ia lupakan. Hal ini benar-benar membuatnya terpuruk. Ia mengurung diri di rumah kecilnya. Tidak ingin bertemu dengan siapapun.

“Gea dengar papa nak. Papa mohon sekali ini saja” ucap seorang pria paruh baya mengetuk pintu rumah Gea namun tetap tidak ada sahutan. “Papa minta maaf karena datang begitu lama. Papa bersalah Gea. Maafkan papa”

“Gea tolong buka pintunya”

Setelah sekian lama menunggu, Gea akhirnya menunjukkan wajahnya di hadapan pria tersebut. Pria itu langsung memeluknya dengan erat.

“Gea maaf papa terlambat. Selama ini papa terus cari kamu tapi orang-orang di panti mengatakan mereka kehilangan kontak dengan kamu”

“Papa ke panti?”

“Iya sayang. Papa senang bisa bertemu kamu. Terimakasih karena sudah hidup dengan baik. Papa akan lakukan apa pun untuk menebus kesalahan papa oke?”

Gea hanya bisa mengangguk karena menahan tangis nya.  Dulu ia selalu berharap dapat pelukan seorang ayah. Dan saat hal itu terjadi, ia begitu bahagia. Gea akhirnya pindah ke rumah papanya. Sebuah rumah megah yang selama ini hanya ada dalam bayangan Gea.

          Sementara Gilang yang sebenarnya masih sangat berharap Gea memaafkannya, terus berusaha untuk dapat menemui Gea. Dia datang ke rumah kontrakan Gea dan selanjutnya dia tau bahwa Gea sudah pindah. Gilang merasa bahwa Gea masih berusaha menghindari dia. Gea masih marah sama dia. Gilang yang awalnya berharap dapat menolak perjodohan dengan membawa Gea pulang dan memperkenalkan kepada kedua orang tuanya kini hanya bisa pasrah. 

“Malam ma, pa” ucapnya saat tiba di rumah dan menemui orangtuanya

“Malam sayang. Kamu kenapa? Wajah kok kusut begitu?” tanya Tante Ratna , ibu Gilang

“Cuma capek aja ma. Gilang mau ke kamar dulu ya”

“Iya sayang. Kamu mandi dulu ya biar mama siapin makan buat kamu”

“Makasih ma” ucapnya seraya memeluk mamanya

Dia berjalan lunglai menuju kamarnya. Sementara sepeninggal Gilang, pasangan suami istr itu pun memulai pembicaraan serius tentang anak mereka.

“Pa, mama takut kita terlalu keras sama Gilang”

“Maksud mama?”

“Ya masalah perjodohan itu pa. Mama merasa kita terlalu memaksa. Mama takut Gilang merasa tertekan. Mama gak mau itu pa”

“Mama gak usah khawatir tentang itu. Papa sudah pernah bicara sama dia. Dia setuju aja tuh”

“Tapi mama melihat anak kita gak bahagia pa”

“Nggak bahagia gimana sih ma?”

“Mama merasa ana kita terpakasa melakukan perjodohan ini pa. Dia mau kita bahagia dengan mengikuti semua rencana kita.”

“Ya sudah nanti kita bicarain lagi ya ma. Setelah dia makan”

Sang istri pun mengangguk mengiyakan. Dan sesuai rencana, setelah Gilang menyelesaikan makanannya, keluarga kecil itu duduk di ruang keluarga.

“Gilang gimana dengan perjanjian kita kemarin?” tanya Om Bastian, papa Gilang

“Perjanjian? Perjanjian apa pa? Kenapa mama tidak tau?”

“Ya ini perjanjian antar pria ma. Kemarin Gilang datang menemui papa dan bilang kalau sebenarnya sudah ada seorang gadis yang ia cintai dan menolak perjodohan ini. Ya papa harus pastiin dong kalau anak papa nggak bohong. Makanya papa minta untuk bawa gadis itu biar papa dan mama bisa kenal sama dia”

“Sayang benar kamu udah punya pacar?” tanya tante Ratna kepada Gilang

“Iya ma. Namanya Gea. Teman sekelas Gilang”

“Lalu kenapa wajah kamu sedih begitu? Dea nya mana? Kenapa kamu nggak datang dengan Gea?”

“Gilang udah putus sama dia ma. Tepat di hari papa mengumumkan perjodohan itu”

“Dia tau kamu akan dijodohkan?”

“Iya ma”

“Pasti karena itu dia minta putus sama kamu”

“Sebenarnya bukan ma. Dia marah sama Gilang karena Gilang udah bohongin dia”

“Bohong? Bohong apa sayang? Coba jelaskan sama mama”

“Ya semenjak Gilang pindah sekolah, Gilang udah tertarik sama dia karena dia itu beda dengan cewek yang lain. Dia sangat mandiri dan baik ke semua orang. Tapi dia gk suka sama orang kaya ma. Dia punya pengalaman buruk dengan hal-hal yang menyangkut kekayaan. Orangtuanya meninggalkan dia di panti asuhan karena alasan harta warisan. Dan saat di panti asuhan pun, dia dan keluarganya di panti harus merasakan ketidakadilan  dari orang berduit. Karena alasan itu, akhirnya Gilang bohong sama dia ma. Karena Gilang mau dekat sama dia, akhirnya Gilang menciptakan cerita bahwa keluarga kita hidup seadanya. Bahkan waktu dia mulai curiga sama Gilang setelah ketahuan ketemu sama papa, aku dengan sengaja mengajak dia ke rumah pak Asep, supir papa dengan tujuan dia percaya sama semua cerita Gilang”

“Dan sekarang dia  tau semuanya danmenghindar dari kamu?” tanya om Bastian

“Iya pa. Setelah dia tau bahwa selama ini Gilang bohong sama dia, dia minta putus dan menyarankan Gilang untuk menerima perjodohan itu”

“Lalu kenapa wajah kamu begitu putus asa. Kamu tau kan itu kesalahan kamu?”

“Iya pa Gilang tau”

“Papa gak akan paksa kamu dengan perjodohan ini. Semua keputusan ada di tangan kamu”

“Makasih pa” 

Dan masalah perjodohan teratasi untuk Gilang. Tapi lain halnya dengan Gea yang baru saja ketemu papanya. Ketika papanya membicarakan perjodohan, dengan cepat Gea menolak. Karena dia masih ingin menenangkan hati dan pikirannya setelah berpisah dengan Gilang. Dan papanya pun hanya bisa mengikuti keputusan putri semata wayang nya yang bau saja ditemukan.

Saat waktu yang ditentukan untuk kedua keluarga itu bertemu dalam sebuah jamuan makan malam, Gilang yang sebenarnya menolak perjodohan pun tetap datang untuk memberikan kesan baik pada keluarga teman papanya tersebut. Semua sudah berkumpul kecuali wanita yang akan dijodohkan dengan Gilang.  

“Maaf putri saya akan sedikit terlambat. Sebaiknya kita mulai saja”

“Iya saya setuju Bram” ujar om Bastian kepada temannya

“Saya minta maaf karena sepertinya perjodohan ini harus dibatalkan. Anak saya tiba-tiba menolak untuk dijodohkan” ucap om Bramantio

“ Wah kebetulan sekali Bram. Gilang juga sebenarnya menolak perjodohan ini”

“Oke baiklah. Karena kita sudah sepakat, jadi perjodohan ini akan dibatalkan. Dan sekarang mari kita nikmati hidangan malam ini sebagai teman lama”

Mereka semua menyantap hidangan yang ada saat seorang gadis belia melangkah masuk ke ruangan tersebut.

“Gea sayang kemari” panggil om Bram kepada gadis tersebut

Mendengar nama Gea disebut, Gilang langsung mencari sekeliling dan betapa kagetnya dia mendapati gadis yang selama ini ia rindukan berdiri di hadapannya.

“Gea..” ucapnya lirih

“Kalian sudah saling kenal?” tanya om Bram

“Gilang kamu sudah kenal sama putrinya om Bram?” tanya tante Ratna

“Jadi ....” Gilang tidak sanggup menyelesaikan ucapannya

“Iya. Dia anak om. Namanya Gea” ucap om Bram

“Hallo om , tante” sapa Gea

Orang yang di sapa hanya tersenyum untuk membalas sapaan Gea. Mereka lantas melanjutkan makan malam mereka.  Namun tiba-tiba Gilang memulai pembicaraan mereka.

“Om apa perjodohannya masih bisa dilanjutkan?” 

Semua orang termasuk Gea sangat kaget mendengar permintaan Gilang yang sangat tiba-tiba.

“Kenapa? Kamu berubah pikiran setelah melihat anak om yang cantik ini?”

“Apa dia orang yang kamu maksud kemarin?” tanya tante Ratna

Gilang mengangguk mengiyakan."Sebenarnya sebelum perjodohan ini saya dan Gea pacaran om. Tapi beberapa hari belakangan ini hubungan kami sedang tidak baik. Anak om kabur terus dari saya”

“Saya tidak bisa berkata apa pun. Bagaimana saya harus menjelaskan. Keputusan bukan di tangan saya tapi pada Gea. Saya baru bertemu dengannya setelah terpisah 16 tahun. Dan saya akan melakukan apa pun untuk membahagiakan putri saya. Jadi sebaiknya masalah ini diselesaiakan oleh kalian berdua”

Gilang menatap Gea yang sedari tadi diam. “Gea..?”

Gea masih saja diam. Bahkan tidak mau beradu pandang dengan siapapun.

“Gea sayang...” ucap om Bram sangat lembut dan penuh kasih

“Kita udah sepakat tidak akan membahas masalah ini lagi kan pa” tukas Gea dengan sangat tegas

“Apa kamu sebegitu marahnya dengan anak tante?”

Pertanyaan itu berlalu begitu saja tanpa jawaban. Semua orang di ruangan itu diam tanpa kata.

“Gilang kamu jelasin semuanya dong sayang kalau kamu melakukan itu karena kamu sayang sama Gea. Kamu cuma mau dekat sama dia”

“Oh ya? Coba kamu jelaskan bagaimana kamu membohongi anak saya” tukas om Bram

“Bagaimana om bisa tau?” tanya Gilang 

“Gea udah cerita semuanya sama om. Tapi om merasa cerita kamu dan versi Gea akan sedikit berbeda”

“Papa..”

“hahaha maaf sayang. Papa Cuma pengen tau cerita sebenarnya”

“Cerita sebenarnya??”

“Iya. Om sudah dengar masalah kamu dengan Gea di hari om jemput dia. Dan kesimpulan yang bisa om ambil yaitu bahwa anak om sangat mencintai kamu”

"Papa..." 

Orang yang dipanggil hanya terrsenyum melihat kelakan putri kesayangannya itu 


“Om yakin?” tanya Gilang dengan wajah berseri

“Ya sangat yakin. Menurut mu kenapa dia mau datang malam ini? karena dia tau ada kamu”

“Kalau gitu perjodohannya?”

“Iya Gilang. Papa dan om Bram memang sengaja tetap melaksanakan makan malam ini. Setelah kamu memutuskan menolak perjodohan ini dan mulai cerita tentang Gea, papa menemukan benang merah. Papa lantas meminta om Bram untuk memberitahu Gea siapa yang akan dijodohkan dengan nya”

“Dan kamu tau. Gea yang awalnya menolak keras perjodohan ini, tiba-tiba berubah pikiran setelah om menyebutkan nama papa kamu. Sepertinya dia menangkap umpan yang om berikan.Dia lantas setuju untuk datang pada makan malam ini buat ketemu kamu”

“Jadi perjodohan ini dilanjutkan?”

“Tidak” sahut Gea “Bukankah kamu menolak perjodohan ini?”

“Itu kemarin sebelum aku tau kalau itu kamu. Lagian aku menolak perjodohan ini kan karena aku tetap pengen sama kamu” jelas Gilang panjang lebar. Dia lantas mendekati Gea dan berhenti di hadapan gadis yang sangat di cintainya itu.

“Sekarang kita baikan?” ucap Gilang seraya mengacungkan jari kelingking nya. Gea menautkan kelingking nya dengan Gilang yang menandakan mereka baikan. Gilang lalu memeluk Gea di depan kedua orang tua mereka. Semua yang ada di ruangan itu lantas tertawa bahagia melihat kebahagiaan buah hati mereka. Karena tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari kejujuran. Jujur akan hati kamu. Karena cinta butuh kejujuran.


Komentar

Postingan Populer