Love, Yes or not?? #1
PROLOG
Malam
itu, setelah pengakuannya yang tiba-tiba, dia datang mengulurkan tangannya
kearahku disertai senyuman.
“Apa
kamu tidak akan menerima uluran tanganku lagi?”
“Untuk
apa?” tanyaku
“
Salam perpisahan”
Aku
menerima uluran tangannya dan aku merasakan tangannya yang dingin.
“Selamat
atas kelulusan kamu. Aku tunggu kabar bahagia kalau kamu lulus di sekolah itu”
ucapnya seraya memberikan senyum
“Kamu
juga selamat udah lulus. Selamat udah mau jadi anak SMA sekarang. Safe flight ya” ucapku dengan senyum tulus
“Sampai
jumpa lagi”
“Ya”
Waktu
itu kita berjabat tangan cukup lama dan saling menatap. Tanpa kata tapi begitu
banyak makna di balik tatapan itu. Aku tersenyum dan dia menarik tubuhku lalu
memelukku lama sekali.
“Aku sayang kamu Sra. Good luck ya” ucapnya
***
Siang itu aku menerima surat kelulusanku yang telah
diberikan kepala sekolah ke setiap orang tua siswa. Aku dinyatakan lulus dari
sekolah dasar yang sudah kutempati selama 6 tahun. Menjadi siswa SMP belum
membuatku semakin dewasa. Hal ini terjadi saat mama mengambil keputusan untuk
mendaftarkanku ke SMP N 2. Hanya karena teman masa kecilku masuk di sekolah itu
sedangkan teman dekat ku dari sd berada di sekolah yang lain. Tapi aku tidak
bisa menentang mama. Aku hanya menurut apa yang ia katakan padaku. Saat pertama
masuk ke sekolah tersebut, kami sudah disambut oleh kakak senior yang akan
melakukan masa orientasi siswa baru. Dimana- mana penderitaan siswa yang di
ospek selalu sama, menjadi bahan bulian untuk kakak senior. Selama 3 hari
menjalani masa ospek, akhirnya penderitaan itu selesai. Dapat kelas baru, mulai
belajar dan kenal dengan teman yang baru juga. Di saat itu lah untuk pertama
kalinya aku bertemu dengan dia, Mario. Seorang cowok yang sejak hari pertama
belajar selalu cari masalah denganku. Dia dan teman-temannya selalu buat
keributan di kelas yang akan mengganggu konsentrasi anak-anak yang lain.
“Kalian
bisa diam nggak?” tanyaku dengan suara tinggi
“Kalau
nggak bisa kenapa? Kamu mau apa?”
“Kalau
mau ribut di luar sana” bentak ku
“Aku
nggak mau. Ini kelas kita juga. Kalau kamu merasa terganggu ya silahkan keluar”
“Dasar
tukang onar” ucapku kesal
Saat-
saat marah seperti itu membuat sahabatku Yeni mulai menenangkanku.
“Sabar
Es. Biarin aja mereka”
“Hhmm.”
Aku
akhirnya memilih untuk diam dan membiarkan mereka melanjutkan kegiatan aneh
mereka. Memang hampir tiap hari aku harus ribut dengan mereka hanya karena
masalah kecil. dan nggak tahu kenapa aku malah semakin benci sama mereka karena
sering buat onar. Dan tidak jarang karena kenakalan mereka, kelas kami
disemprot oleh omelan kepala sekolah saat apel pagi.
Setelah apel pagi selesai, Bu Denny
sebagai wali kelas kami datang dan memberikan beberapa pengumuman.
“Selamat
pagi anak-anak”
“Pagi
bu”
“Ibu
mau menyampaikan beberapa hal untuk kalian. Untuk beberapa hari ini, kelas kita
menjadi sorotan oleh pihak sekolah karena kenakalan beberapa teman kalian. Ibu
harap tidak ada yang bolos kelas dan tidak ada yang buat ribut ketika jam
pelajaran baik disaat ada guru atau tidak. Paham semuanya?”
“Iya
bu”
“Bu
saya mau kita buat aturan kelas untuk yang ribut” ucapku memberi saran
“Ide
bagus Esra. Gimana yang lain setuju?”
“Saya
tidak setuju bu” sahut Mario menimpali
“Iya
kenapa Mario?”
“Saya
tidak setuju bu. Karena bisa aja seseorang ribut karena masalah pelajaran.”
“Iya
bu. Bisa jadi karena diskusi pelajaran” timpal Erik
“Menurut
saya kalau ributnya karena pelajaran atau tidak akan menjadi tanggung jawab si
penilai bu”
“Gimana
yang lain? Apa ada yang masih ingin berpendapat?”
“Setuju
bu”
“ oke.
Karena semua sudah setuju, kita akan sepakati aturannya. Ada yang ingin
berpendapat?”
“Denda
bu”
“Hormat
bendera bu”
“Disuruh
keluar bu”
Setelah
begitu banyak pendapat lainnya, maka keputusannya adalah setipa orang yang
ribut di kelas akan dikenakan denda Rp5000 setiap membuat keributan. Dan
setelah diskusi dengan kelas maka aku dinobatkan sebagai tim keamanan di kelas
ini. jadi aku yang akan memberikan laporan kepada wali kelas.
“Dan
satu lagi. Setiap tahun siswa terbaik selalu dari kelas ini. saya harap untuk
tahun ini juga demikian. Belajar lah dengan baik”
Dan
pesan terakhir bu Denny merupakan pertanda bahwa perang antara aku dengan Mario
and geng dimulai. Sejak pertemuan dengan wali kelas saat itu, mereka semakin
membuat onar. Dan sejak saat itu, impianku untuk belajar tenang di sekolah ini
tinggal hayalan. Mereka selalu membuat masalah denganku. Setiap bertemu pasti
ribut. Nggak dikelas, di kantin, di gerbang sekolah bahkan di jalanan
sekalipun. Dan dia selalu mengejekku karena pulang dengan berjalan kaki.
“Aduh
kasihan. Capek ya jalan. Kalau kamu minta maaf mungkin aku akan berbaik hati
buat ngasih tebengan”
“Nggak
butuh. Udah pergi sana. Jangan ganggu aku”
“Dasar
cewek sombong. Makan tuh debu jalanan”
Tidak
selesai sampai di situ. Mereka akhirnya kembali membuat onar di kelas dan
mengganggu teman yang lain.
“Diaaaammmm”
bentakku dengan suara lantang
“Kenapa?”
tanya Mario
“Kalau
kamu nggak bisa diam, aku akan paksa kamu untuk diam” ucapku seraya mengepalkan
tangan
Untuk
sementara cara ini berhasil. Mereka benar-benar diam. Tapi beberapa menit
berselang mereka mulai ribut lagi. Dan Plaakk.. sebuah kapur tulis tepat mengenai
wajahnya.
“Eh
kamu apa-apaan sih. Main lempar seenaknya. Kamu pikir kamu siapa hah?”
“Kamu
yang duluan buat ribut. Aku udah peringatin kamu ya”
“Apa
kamu pikir karena wali kelas nugasin kamu buat nulis yang ribut kamu bisa
seenaknya?” ucapnya dengan luapan emosi dan dia mulai berjalan ke arahku dengan
wajah merah karena menahan amarah.
“Jangan
mendekat!” tantangku. Bersyukur suara ku tidak bergetar sama sekali
Dia
semakin mendekat dan menangkap tanganku. Dia menggenggamnya dengan kuat sampai
aku merasa kesakitan
“Lepasin”
ucapku seraya meronta
“Dengar
cewek sombong, kamu bukan siapa-siapa di sini. Jadi nggak usah sok jagoan. Apa
karena kamu pintar kamu merasa hebat hah? Nggak usah sok hebat”
“
Aku nggak sok jagoan. Dan aku bukan tipe orang yang menjadikan kepintaran untuk
kesombongan. Tapi karena kamu bicara begitu, aku akan buktikan kalau aku memang
jauh lebih hebat dari kamu.Tanpa aku buktikan pun semua orang udah tau. Nilai
aku lebih tinggi dari kamu karena aku bukan kaya kamu dan teman-teman kamu yang
bisanya cuma main dan saat ujian nyari contekan”
Aku
melangkah pergi ke tempat dudukku saat dia juga menghampiri mejaku.
“Hah
kamu makin sombong sra. Kamu merasa sudah di atas angin hah. Dan kamu juga lupa
cara menghargai orang”
“Aku
tidak tahu cara menghargai orang kaya kalian”
“Kenapa?
Gak ada yang ngajarin ya di rumah. Karena dirumah gak ada yang peduliin kamu.
Keluarga gak jelas”
PLAAAKKK...
Telapak
tangan aku tepat mendarat di pipi kirinya. Dan sepertinya dia cukup kaget dengan
apa yang baru saja kulakukan. Aku benar-benar sakit hati mendengar ia bicara
begitu tentang keluargaku.
“Kamu
boleh hina aku apa aja. Tapi jangan pernah hina keluarga aku atau aku bisa
melakukan yang lebih dari ini” mataku berkaca-kaca menahan air mata. Aku
langsung berpaling darinya karena aku tidak ingin dia mengetahui titik
kelemahanku.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk tidak berurusan lagi
dengan mereka. Tapi ternyata takdir berkata lain. Aku harus tetap berhadapan
dengan mereka untuk ketentraman kelas.Namun walau begitu, prestasiku di sekolah
ini mulai terlihat. Saat pengumuman nilai semester pertama, aku berhasil
meneruskan sejarah dan memenuhi harapan Bu Denny. Nilai aku berada di posisi
pertama. Aku tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan kebahagiaanku saat itu.
Dan saat Bu Denny masuk ke ruangan pun dia mengungkapkan kebanggaannya
kepadaku. Tapi hal itu justru membuat tim Mario makin benci dan marah padaku.
“Terbukti
kan. Aku bukan sombong tapi aku udah buktikan kepintaran aku”
“
Jangan sombong. Ini masih semester awal. Aku akan pastikan kalau kamu gak akan
ada di posisi ini sampe akhir. Ingat itu”
Dia
pergi dengan dengan wajah kesal. But i don’t care. Aku terlalu senang hari ini.
***
Semester
2 pun tiba. Saat semua orang dengan wajah cerah melangkah masuk ke pelataran
sekolah. Mungkin di antara semua siswa, hanya aku yang kurang semangat. Karena
aku tau bahwa aku akan berurusan lagi dengan Mario dan teman-temannya. Tapi
sepertinya ada yang berubah. Dia tidak terlalu ribut lagi. Bahkan untuk
beberapa kesempatan dia belajar sangat tekun. Hal ini berlanjut hingga ke
pertengahan semester 2. Mendekati UTS, guru fisika membagi kami dalam beberapa
kelompok dan sialnya aku satu kelompok dengan Mario. Pak Beny memang sengaja
membuatku berdua dengan Mario karena selama ini nilai dia sangat kurang dari
cukup. Dan welcome to the big problem. Satu
kelompok dengan dia membuat hari-hariku berjalan lambat. Apalagi setiap ketemu
untuk urusan tugas, dia selalu sibuk sendiri dan terkesan tidak mau membantu.
Satu bulan lebih setelah pemberian tugas, artinya 2 hari lagi adalah waktu
pengumpulan. Tugas kali ini akan menjadi nilai uts untuk mata pelajaran fisika.
Hari –H pengumpulan
“Eh
tugas laporan mana?”
“Gak
ada di aku”
“Kan
kemarin aku minta tolong kamu bawa print-in sekalian buat dipelajarin untuk presentasi”
“Oh
iya? Kapan? kayanya gak ada deh. Seinget aku gak ada”
Dan
satu lagi masalah baru. Saat kita diberi giliran untuk presentasi. Pak Beny
tetap mengijinkan kita presentasi walau tanpa jurnal laporan. Dan saat
menentukan seperti ini, dia tidak tahu apa pun.
Bahkan untuk menjawab pertanyaan mudah pun dia tidak bisa.
“Esra
kamu tau kenapa bapak mengelompokkan kamu degan Mario? Biar kamu bisa ajarin
dia. Tapi sepertinya penelitian ini hanya kamu lakukan sendiri. Benar?”
Aku
hanya diam. Dan sudah tidak ada keberanian untuk berargumen dengan pak Beny.
“Untuk
kelompok ini saya beri nilai 50. Karena tidak mengumpulkan laporan dan tidak
ada kerja sama tim”
Aku
pasrah dan segera duduk. Membiarkan setiap pasang mata melihatku dengan rasa
kasihan. Tanpa terasa air mata aku jatuh. Hari yang benar-benar menyedihkan.
Memuakkan. Untuk pertama kalinya aku mendapat nilai 50. Dan yang lebih parah
lagi adalah bahwa ini adalah nilai Uts.
“Kamu
nangis?”
Aku
hanya diam saja. Dan bahkan sampai bel pertanda pembelajaran selesai aku masih
saja diam kepadanya.
“Apa
kamu masih marah?”
“Jangan ganggu aku.”
“Hey kenapa? Marahin aja aku. Bentak. Pukul sekalian.
Tapi jangan diam gini dong”
“Aku udah bilang jangan ganggu aku. Tapi sekarang kamu
mau aku marah? Iya aku marah. Aku tau ini semua rencana kamu buat hancurin aku.
Selamat. Sepertinya rencana kamu untuk melengserkan aku dari posisi itu
berhasil. Puas?”
Aku pergi dan sejak saat itu hingga akhir semester aku
benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan mereka. Pengumuman hasil studi
semester 2 telah keluar dan seperti apa yang telah ku duga. Nilai aku turun
dari posisi 1 ke peringkat 3. Benar- benar keadaan yang mengecewakan. Hal itu
membuatku sangat frustasi. Awalnya aku memang biasa aja. Tapi saat wali kelas
menghampiriku, air mataku jatuh juga.
“Tidak papa Esra. Kamu jangan menyerah. Ini biasa
terjadi. Ibu yakin kamu bisa bangkit lagi”
Aku mengangguk masih dengan air mata di pipi. Aku tak
kuasa menahan air mataku untuk tidak jatuh. Aku terlalu sedih dan kecewa.
Selama pengumuman, aku hanya berdiam diri. Bahkan saat teman-teman ku menyapa,
aku masih saja diam.
Saat aku dan Yeni hendak pulang, dia datang mendekatiku
dan berupaya untuk berbicara denganku.
“Maaf”
Aku menoleh dan segera membalikkan badan untuk
melanjutkan langkahku.
“Aku bilang maaf” Sahutnya
“Lalu kenapa? Apa dengan maaf kamu keadaan bakal berubah? Nggak kan”
“Aku tau keadaan tidak akan berubah. Tapi aku mau kamu
tau kalau aku gak ada maksud buat nilai kamu turun”
“Sudah ya. Aku capek. Mau pulang”
Aku segera mengajak Yeni untuk pulang meninggalkan dia yang masih berdiri memandangi kepergianku.
***
Setelah kejadian yang menimpaku di kelas 1, aku sangat
berharap untuk tidak sekels dengan Mario dan geng nya. Aku berharap ada perubahan
kelas di sekolah ini. Tapi sepertinya harapanku tidak terpenuhi. Saat pertama kali
masuk kelas, aku masih menemukan mereka di kelas yang sama denganku. Hal itu
membuatku sedikit muak. Aku benci bertemu lagi dengan mereka. Saat wali kelas – Bu Lidya mulai masuk dan
membicarakan untuk pemilihan wakil dan ketua kelas, anak-anak mengajukan namaku
untuk menjadi ketua kelas. Namun aku menolak dengan keras.
“Maaf bu tapi saya tidak bersedia menjadi ketua kelas.”
“Kenapa? Apa ibu boleh tau alasannya?”
“Saya merasa tidak mampu. Dan saya sedang ingin fokus
belajar saja”
Dan berakhir di situ. Argumen aku berhasil dan pemilihan
masih terus berlanjut. Saat waktu istirahat, dia datang menemuiku.
“Apa kamu masih marah?”
Aku tetap diam. Aku bahkan memilih untuk bergabung dengan
beberapa temanku pergi ke kantin sekolah. Tapi dia masih mengikutiku dan hal
itu membuatku sedikit risih dan tidak nyaman. Setiap hari dia selalu berusaha mengajakku
bicara untuk meluruskan apa yang terjadi di kelas 1.
“Tak bisakah kamu mendengarkanku dulu?” tanyanya seraya
menarik pergelangan tanganku
“Soal apa? Apa kalian masih belum baikan?” tanya Sri salah
satu sahabatku
“Sepertinya pertanyaan itu dia yang harus jawab” ucapnya
melepas tanganku
“Udahlah. Aku udah bilang kan lupain aja?”
sahutku menimpali
“Lalu? Apa setelah aku lupain semuanya kita akan baik-baik aja?
Atau kita akan terus seperti ini? Tidak saling menyapa. Kamu bahkan tidak
memberiku kesempatan bicara”
“Apa kita sedekat itu untuk saling menyapa? Bahkan
sebelum ada masalah ini pun kita tidak pernah saling menyapa. Karena itu aku
minta lupakan”
“Oke. Aku akan lupakan masalah ini. Tapi kamu jangan
mengacuhkanku lagi. Kau selalu bertindak seolah aku tidak ada. Tolong”
Aku hanya diam dan beranjak pergi.
Hari demi hari berlalu begitu juga dengan ujian tengah
semester. Hasil ujian tengah semester tidak terlalu memuaskan terutama dalam
pelajaran Biologi. Disamping guru yang jarang masuk, aku memang kesulitan untuk
mengikuti pelajaran tersebut. Hal itu membuatku sedikit takut untuk menghadapi
ujian akhir semester. Setelah hampir satu bulan penuh aku mempersiapkan diri
untuk ujian kali ini. Tapi tetap saja hatiku tidak tenang saat ujian hari
pertama berlangsung. Teman-temanku berusaha menghiburku dan memberikan dukungan
kepadaku. Dan dia juga melakukan itu. Pagi sebelum ujian berlangsung, dia menghampiriku
dan memberikan semangat kepadaku.
“Semangat. Aku tau kamu bisa dapat posisi itu lagi”
Kalimatnya selesai disertai senyuman. Aku hanya diam
“Bagaimana ujian kamu?” tanya Christina, sahabatku yang
lain
“Aku sudah berusaha keras. Tapi tetap saja aku khawatir
untuk ujian Biologi dan Kesenianku”
Ya, aku memang lemah di dua mata pelajaran itu. Hal itu
mungkin akan menghalangi aku untuk mengejar posisi pertama lagi. Dan memang
benar. Saat hasil evaluasi semester ketiga keluar, aku sungguh kecewa tidak
berada di urutan pertama. Tapi aku cukup kaget saat mengetahui bahwa orang yang
mengalahkanku saat ini bukanlah orang yang sama dengan yang terjadi di semester
kedua saat kelas 1 dulu. Tapi yang mendapat posisi pertama justru orang lain. Sedangkan
orang yang sebelumnya di posisi pertama kini berada di posisi ketiga, satu
tingkat persis di bawah aku. Ya nilai aku memang naik ke posisi kedua. Tapi
tetap saja aku merasa malu. Dia mengalahkan kami dengan sekali percobaan. Cukup
iri melihat dia melakukan dengan baik.
***
Di semester
ke-4, aku makin berusaha untuk bisa menempati lagi peringkat pertama.
Bagaimanapun aku belum menyerah. Aku ingat seseorang pernah bicara kepadaku
bahwa kita tidak boleh menyerah selama kita belum mencapai batas kemampuan
kita. Jadi aku akan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Akhirnya
perjuanganku terbalaskan saat penerimaan hasil ujian akhir semester 4. Aku
berhasil. Saat melihat hasil itu terpampang di papan pengumuman, cukup bangga
melihat namaku berada di posisi pertama. So proud of course. Aku pulang ke
rumah dengan membawa sejuta bahagia. Saat itu aku percaya bahwa kerja keras tak
akan berkhianat. Saat kamu berusaha, maka kamu akan menuai hasilnya.
Menjadi orang paling senior di sekolah membuat kami para siswa
kelas 3 harus bersikap baik. Tapi tetap saja beberapa anak akan berlagak sok
jago di sekolah ini. Dan aku paling benci dengan hal seperti itu. Aku paling
benci dengan orang yang mendapat julukan yang diawali kata sok. Sok baik, sok
pintar,sok cantik dan banyak lagi. Tapi apa daya aku tak punya kekuatan untuk
mengalahkan mereka. Mereka yang mendapat julukan itu adalah orang-orang top
sekolah. Bukan hanya karena prestasi mereka melainkan karena penampilan dan
status keluarga mereka, kelas 3-1. Rata-rata nilai kelas mereka memang selalu
terbaik bahkan mereka selalu menjadi kelas percontohan oleh kepala sekolah setiap
bicara tentang kedisiplinan dan kerajinan. Mereka memang selalu mendapat posisi
pertama dalam perlombaan kelas terbaik. Yang selalu tertib, rapi dan bersih.
Karena itu mereka selalu merasa diatas angin di sekolah ini. Mendapat perlakuan
baik dari hampir setiap guru membuat mereka membatasi pergaulan mereka dengan
kelas yang lain. Ya mereka hebat tapi apa gunanya jika kamu hanya diam di kelas
dan tidak bertemu orang lain.
Dibandingkan
dengan kelas 3-1, mungkin kelas yang aku tempati sekarang adalah kelas yang
paling cocok dijadikan sebagai contoh terburuk. Kondisi kelasku, 3-4 adalah
segala hal yang bertolak belakang dengan kelas terbaik itu. Kelas yang selalu
menjadi sumber masalah sejak semester pertama. Kelas yang tidak pernah diam,
kelas yang selalu menjadi penghasil sampah terbanyak setiap harinya.
Benar-benar tidak ada yang dapat dibanggakan. Prestasi? Walau di kelas ini
tempat siswa yang berhasil menyabet peringkat pertama sekolah, namun di kelas
ini juga lah tempat siswa dengan peringkat terakhir. Selama dua tahun ini kelas
kami selalu menjadi kelas dengan orang-orang yang memiliki nilai terendah di
sekolah ini. Bukan hanya masalah itu, tapi kelas 3-4 juga dikenal dengan kelas
paling malas. Setiap guru yang masuk di jam pelajaran pertama akan mendapati
kekecewaan karena jumlah siswa yang hadir tepat waktu sangat jauh dari harapan.
Dari 32 siswa, hanya ada 15 siswa yang akan ditemukan di kelas jam 07.15 wib.
Bukan kelas 3-4 namanya jika tidak
banyak yang terlambat. Bukan hanya terlambat 3-5 menit, kebanyakan siswa di
kelas ini terlambat hingga 30 menit. Dan setiap dipertanyakan, selalu ada saja
alasan yang kadang mengundang gelak tawa setiap orang yang mendengarnya. Yang harus ngasih makan ternak dulu lah atau yang bantu mamanya jemur cucian lah dan masih banyak lagi alasan-alasan konyol lain nya. Entah
mengapa kejadian ini semakin parah saja. Saat kami berada di kelas 1 dan di kelas
2 tidak separah ini. Walaupun ada yang terlambat, biasanya hanya 1 atau 2 orang
dan itu juga dengan alasan yang logis. Namun sekarang semua seakan melakukannya
dengan sengaja. Toh juga kami sudah kelas 3 dan sebentar lagi akan meninggalkan
sekolah ini. Sekarang kelas ini benar-benar tidak tertolong dalam hal apapun.
Satu hal yang mereka sukai hanyalah musik. Saat belajar kesenian, semua begitu
antusias. Setelah itu semua akan kembali seperti semula.
Sebagai kelas terbaik dan terburuk, membuat
siswa kelas 3-1 tidak memiliki hubungan baik dengan siswa dari kelas 3-4. Siswa
kelas 3-4 yang terkenal dengan sifat extra extrovert nya seakan tiba-tiba
berubah menjadi introvert saat berpapasan atau bertemu dengan siswa 3-1.
Sebenarnya bukan hanya berselisih dengan kelas 3-1, kelas kami juga tidak
berhubungan baik dengan kelas 3-6. Masalahnya adalah kelas 3-6 selalu menjadi
saingan terberat kami dalam hal kesenian. Bukan karena mereka jago musik atau
semacamnya, tapi setiap kali ada penampilan yang mewakili sekolah dalam hal
kesenian, kelas itu selalu terpilih karena penampilan mereka yang menarik. Ya
memang kelas itu adalah tempat berkumpunya orang-orang cantik dan tampan. Namun
tetap saja itu tidak adil. Hal itu membuat aku dan teman-temanku yang lain
merasa kecewa dan semakin sering membuat masalah di sekolah ini.
Seberapa keras pun aku berusaha untuk tidak
terlibat dengan kedua kelas itu, aku akhirnya harus masuk dalam lingkaran
mereka. Sebagai ketua kelas terpilih di kelas ini membuatku harus sering
bertemu dengan siswa 3-1 dan kelas 3-6. Ditambah lagi karena beberapa lomba
yang akan aku ikuti membuatku harus belajar tambahan bersama dengan beberapa
siswa dari kelas terbaik itu. Kadang teman-teman sekelasku mengingatkan aku
untuk tidak bersikap baik dengan mereka. Jangan terlalu dekat. Hanya lakukan
apa yang kamu perlukan untuk lomba dan keperluan ketua kelas. Aku akui bahwa
kadang aku juga melanggar hal itu. Karena dari pengalamanku bersama dengan
mereka, cukup baik. Dan mereka tidak seburuk apa yang kami pikirkan selama ini.
Mereka enak di ajak bicara, orang yang open minded banget malah. Mereka selalu
bersikap demokratis dalam setiap rapat osis dan ternyata mereka memiliki
pandangan yang fair untuk setiap kelas. Hal itu membuat aku sedikit demi
sedikit menjadi dekat dengan mereka. Bahkan kami saling bertukar nomor
handphone sesama ketua kelas. Walaupun tanpa sepengetahuan teman-temanku di
3-4.
Ternyata
bagaimanapun aku menutupi kedekatanku dengan siswa dari kelas 3-1 dan 3-6,
akhirnya ketahuan juga. Hal ini dikarenakan gosip yang beredar bahwa aku sedang
dekat dengan ketua kelas 3-6, Madya. Entah dari mana gosip itu berasal, yang
pasti gosip itu sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Bahkan ibu kantin yang
memang dekat denganku mempertanyakan kebenarannya. Begitu juga dengan bu Salma,
petugas perpustakaan yang sudah aku anggap seperti ibu aku sendiri. Jika
terjadi sesuatu, hanya dia tempatku cerita di sekolah ini. Bukan wali kelas
atau guru konseling, tapi dia. Seorang ibu muda yang sangat baik dan hangat.
“Bukannya kelas kamu tidak
dalam hubungan yang baik dengan kelas mereka? Kok bisa pacaran?” ungkapnya
mengejekku saat aku mulai masuk perpustakaan saat jam istirahat
“Yah ibu juga percaya
gosip seperti itu?”
“Tidak” ucapnya menggeleng dan tersenyum
“Syukurlah. Paling tidak
ibu di pihakku”
Aku lantas menjelaskan
bagaimana sebenarnya gosip itu beredar. Bukan hanya kepada bu Salma tapi juga
pada teman-teman sekelasku. Hal itu karena kejadian 2 hari yang lalu saat aku
dan Madya pulang bersama selepas rapat osis dan saat itu kami bertemu dengan
salah satu anak 3-6. “Pasti gosip itu dari dia” ucapku mengakhiri ceritaku.
Beberapa temanku bisa terima tapi tetap saja ada beberapa yang protes keras
karena kedekatan aku dengan ketua kelas 3-6 itu.
“Tapi kenapa harus pulang
sama dia?” tanya Mario
“Kita searah. Apa ada yang
salah dengan itu?”
“Tapi mereka musuh kelas
kita” lanjut seseorang di kelas itu
“Aku tidak pernah
menganggap mereka musuh. Dan mereka juga baik-baik aja dengan kita. Setiap di
rapat osis mereka selalu bersikap adil kok untuk setiap kelas” lanjutku
Dan untuk waktu yang lama
kelas itu menjadi pusat debat untuk memutuskan status ketiga kelas itu.
“Tapi kayanya gosip itu
benar melihat bagaimana kamu membela mereka” lanjut Erik
“Ya kamu mau mati?”
bentakku mengangkat tinjuku
Semua orang spontan
tertawa. Aku hanya bisa memandang mereka dengan muka cemberut.
“Ini baru Esra kita yang
dulu” lanjut Mario
Dan masalah terselesaikan.
Bahkan aku telah menyelamatkan pertemanan antara 3 kelas itu. Sejak hari itu,
hubunganku dengan teman-temanku kembali membaik. Begitu juga dengan hubunganku
dengan ketua kelas lainnya. Awalnya sangat malu jadi trending topik di sekolah
saat aku di gosipkan dengan Madya. Namun lama-kelamaan hal itu mulai hilang.
Aku menjalani hariku dengan biasa lagi.
***
5
Semakin
dekat waktuku meninggalkan sekolah ini, aku semakin percaya satu hal. Semakin
kita menyadari sisa waktu kebersamaan yang
kita miliki, kita akan semakin dekat dengan orang di sekitar kita. Hal itu
terjadi padaku. Dulu aku begitu marah dan benci dengan Mario and geng, tapi di
saat terakhir seperti ini, aku justru paling dekat dengan mereka. Lebih dekat
dibandingkan dengan beberapa sahabatku yang cewek. Ya aku memang punya geng
yang beranggotakan 6 orang. Aku, Rachel, Dien, Sri, Antri dan Christina.
Awalnya kami ada 7 orang dengan Marisa. Tapi karena satu lain hal, dia memilih
meninggalkan kami. Kedekatan kami dimulai di kelas dua. Dulu aku hanya punya
mereka dalam segala hal. Apapun yang kami lakukan, selalu bersama. Tapi berbeda
dengan saat ini, saat kelas 3 semester akhir ini, aku lebih dekat dengan geng
Mario seakan aku telah dilantik menjadi anggota baru geng itu. Ya walau mereka
tidak membantuku dalam akademik dan bahkan sering menimbulkan masalah yang
mengharuskan aku sebagai ketua kelas harus keluar masuk ruang wakil kepala
sekolah dan ruang guru, tapi aku nyaman dengan mereka. Selain dengan para sahabatku,
cuma mereka yang bisa membuatku tertawa lepas. Kedekatanku dengan teman-temaku
yang lain juga berubah. Bahkan kini aku
sedang dekat banget dengan 2 orang cowok dari kelas 3-1, Hengky dan Zian.
Mereka tidak terlalu pintar dan bukan pengurus kelas, tapi entah sejak kapan
aku ketemu, bicara dan dekat dengan mereka. Tapi aku ingat pertama kali aku
mulai melihat mereka saat aku ditugaskan oleh guru Kewarganegaraan untuk
memberikan tugas kepada kelas mereka. Ya walaupun kelas 3-1 selalu mendapat
perhatian guru, namun aku pribadi juga merasakan hal itu. Hampir semua guru
dekat denganku. Terutama dengan 3 orang guru yang mengajar kami di kelas 3.
Guru Kwn, Bahasa Inggris dan MM. Mereka bahkan sering meminta untuk memberikan
tugas menggantikan mereka jika mereka akan terlambat masuk kelas karena sesuatu
hal. Saat itu aku masuk ke kelas 3-1 dan sedikit gugup berada di depan
anak-anak pintar ini sendirian.
“Permisi mau ketemu ketua
kelas” ucapku dan sontak membuat mereka secara bersamaan melihatku.
“Kenapa Sra?” tanya Icha
yang menjabat sebagai ketua kelas mereka
“Bu Helmi akan terlambat
masuk. Aku diminta menyampaikan tugas buat kelas ini” lanjutku seraya
memberikan sebuah buku.
“Sra Bu Helmi kemana?”
tanya seorang anak dari sudut ruangan
“Ada rapat dengan kepala
sekolah” jawabku setengah teriak
“Oke makasih ya Sra” sahut
Icha
Aku mengangguk dan
bergegas. Namun ada satu orang lagi yang teriak dari sudut ruangan yang sama.
“Sra kok pergi? Disini
aja. Banyak anak-anak yang berharap kamu belajar di sini”
Aku hanya membalas
ucapannya dengan senyuman dan pergi. Dan sejak saat itu aku kenal dengan dua
orang itu, Ziansang penanya pertama sedangkan Hengky adalah orang yang menyarankanku untuk tetap di kelas itu.
Kedekatan kita berawal dari adegan abstrak itu. Walau sedikit konyol tapi itu
faktanya. Dalam kehidupan nyata, aku lebih dekat dengan Hengky karena kami
sama-sama orang yang tidak bisa diam. Selalu penuh dengan topik pembicaraan.
Sedangkan kedekatanku dengan Zian berada di dunia maya. Obrolan kita
berlangsung lewat chat. Namun ternyata aku dan Hengky tidak
berjodoh karena akhirnya dia pacaran dengan salah satu teman sekelasku, Anggi.
Dan karena keemberanku membicarakan hubungan mereka di depan anak-anak kelas
3-4 membuat aku harus menerima hukuman atas perbuatanku. Hengky juga
membocorkan kedekatanku dengan Zian. Bukan hanya di kelasku dan kelasnya tapi
dengan cepat berita itu menyebar di seluruh kalangan kelas 3. Benar-benar
memalukan. Dan ini untuk kedua kalinya aku jadi trending topik. Dan itu sangat
tidak nyaman. Kemana pun aku pergi selalu saja terdengar pembicaraan itu. Dan
yang paling tidak nyaman adalah saat aku harus menghadapi Zian. Ya selain kita
berasal dari kelas yang awalnya bermusuhan, ditambah lagi karena para junior
harus membicarakan tentang perbedaan prestasi dalam hubungan ini. Banyak yang mulai
membuat pendapat tentang kedekatan kami hanya strategi demi nilai dan ujian
nasional. Bagaimana pun pendapat orang,dan walaupun itu benar- mengingat Zian
pernah memintaku untuk belajar bersama, buat aku fine fine aja. Toh aku juga
nyaman dengan dia. Tapi ternyata kejadian ini harus menjadi akhir untuk
hubungan kami yang bahkan belum di mulai. Bahkan kedekatanku dengan dia harus
berhenti di sini hanya karena kesalahpahaman oleh anak-anak. Zian menjauh dan
segala komunikasi benar-benar terputus. Bahkan saat aku mengiriminya pesan
untuk permintaan maaf, tidak ada balasan. Aku sadar dan memutuskan untuk
melepaskan semuanya. Lagi pula aku tidak akan ada waktu untuk hal-hal seperti
ini karena harus melakukan persiapan matang sebelum menghadapi ujian demi ujian
hingga ujian nasional.
Sekarang aku benar-benar hanya fokus belajar bersama dengan
teman-teman sekelasku karena wali kelas memintaku untuk mengajari beberapa
orang di kelasku. Semua pengalaman yang terjadi beberapa bulan terakhir ini
harus terlupakan. Namun hari itu saat aku sedang mengikuti kelas bahasa Inggris
dari Bu Sanni, dia memintaku untuk menemui anaknya di kelas 3-1. Dan spontan
saja teman sekelasku langsung ribut tak jelas dan memandangku.
“Selamat “Ucap para
sahabatku dengan senyum mengejek. Dan dengan perasan enggan aku melangkahkan
kaki ke ruang kelas 3-1 dimana mau tidak mau, mungkin aku akan melihat dia lagi dengan situasi yang jauh berbeda dari sebelumnya. Aku mengetuk pintu kelas mereka yang tertutup dan
segera dibukakan oleh sang ketua kelas. Ternyata sedang tidak ada guru.
“Mau panggil David” ucapku
yang langsung di respon dengan teriakan siswa 3-1.
Wooooooo....
“Waaaah kok malah manggilnya
David sih Sra?” celetuk seseorang
“Sra Zian gak dipanggil
nih?” teriak Hengky yang suaranya sudah sangat ku kenali
"Sra kok Zian nya gak di sapa?"
“Ada yang sakit hati nih”
David pun lalu berdiri
dari kursinya dan bukannya datang menghampiriku tapi dia justru datang ke meja
Zian dan Hengky dan menanyakan sesuatu.
“Zi gak papa kan?”
tanyanya dengan ekspresi bercanda
Zian tidak merespon
sedangkan suasana kelas semakin rame saja.
“Zi benar kan ngak papa?”
tanya David semakin medekatkan wajahnya ke wajah Zian seraya tersenyum
“Udah sana bego. Lu gak liat kelas makin ribut ”ucapnya seraya
mendorong David
“Huuuuu ada yang marah nih ” sahut anak-anak
yang lain dengan kompak sedangkan aku hanya bisa diam dan menunggu David.
Aku lantas keluar kelas
dengan David dan mengajaknya untuk ketemu Bu Sanni. Suasananya sedikit canggung
setelah apa yang terjadi di kelas tadi. Kami tidak bicara sepatah katapun
sampai aku masuk kembali ke kelas 3-4. Dan kembali belajar untuk persiapan
ujian nasional.
Setelah ujian nasional
berakhir, semua siswa kelas 3 mengadakan perayaan pelepasan di Hill Park, ya
semacam Trans Studio Bandung versi mini karena wahananya tidak sebanyak dan
selengkap di TSB. Saat keberangkatan, setiap kelas di bagi ke dalam satu bis.
“Sra lanjut kemana?” tanya
Anggi
“Apa kamu harus tanya
lagi? Bahkan sekolah sudah mendaftarkan dia di Kelas unggulan SMANSA” celetuk
seseorang
“Oh iya?”
Aku mengangguk. Ya sekolah
memang sudah mendaftarkan namaku untuk mengikuti test ke sekolah terbaik itu. Kelas
unggulan SMANSA, sebuah sekolah unggulan yang telah terbukti menghasilkan
siswa-siswi teladan yang lolos ke berbagai universitas ternama baik dalam dan
luar negeri. Namun untuk masuk ke sekolah itu tidaklah mudah. Ada berbagai test
dengan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda. Setiap tahunnya kemungkinan masuk adalah 1 : 30.
“Wah hebat. Selamat ya”
“Masih terlalu dini buat
ngucapin selamat. Bahkan setelah lolos pun aku tidak tau di ijinkan atau tidak
masuk sekolah itu” ucapku
“Kenapa?”
“Ya kakak aku tidak setuju
aku masuk asrama”
Begitulah pembicaraan kami
sepanjang 3 jam perjalanan. Saling menanyakan tujuan teman yang lainnya. Tapi
entah kenapa saat itu adalah moment paling menyedihkan selama aku bersama
dengan mereka. Karena aku tau kalau para sahabatku akan sekolah di luar kota.
Rachel akan mengambil sekolah elit di Medan. Sri akan melanjutkan sekolah
kejuruan juga di luar kota dan Dien akan segera berangkat ke Kalimantan.
“Antri gimana?”
“Aku belum tau.
Tunggu keputusan orang tua aja lah”
“Jangan sedih Sra. Aku juga bakal stay di sini kok. Aku
ambil kejuruan di sini aja” sahut Mario
“Apaan sih Io. Nimbrung aja deh” sahut Sri mulai marah
karena Mario merusak suasana
“Ya kan aku menghibur Esra”
“Ya makasih ya. Udah sana” ucapku
Dan masa untuk bersedih sudah berakhir setelah tiba di
taman bermain. Kami mulai sibuk mencari wahana dan mulai bermain sepuasnya.
Sekitar pukul 3 sore kami semua melanjutkan pejalanan ke tempat pemandian air
panas Sidebuk. Pilihan tepat setelah setengah hari ini kami lelah bermain, maka
selanjutnya adalah mandi. Walaupun kali ini mandinya dengan air panas. Di sana,
kami benar-benar bermain air sepuasnya layaknya anak kecil. Saling bersiram
air, menjatuhkan bahkan kami bermain bola di dalam kolam. Tapi ada satu hal
yang baru aku sadari sore itu, semenjak berangkat Mario selalu berusaha dekat
denganku. Awalnya aku pikir itu hanya pendapatku saja yang terlalu geer, tapi
aku semakin yakin saat beberapa sahabatku berpendapat sama. Mengingat bagaimana
tiba-tiba dia muncul di tengah pembicaraan kami saat di dalam bis, dilanjutkan
saat di wahana bermain. Dia selalu ada di setiap wahana yang aku naiki. Bahkan
saat kami menuju kantin wahana pun dia selalu ikut. Terakhir di kolam tadi.
Saat kami berbagi tim untuk bermain, tiba-tiba saja dia ingin satu tim
denganku. Aku semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
Di tempat
tujuan kami terakhir- Pasar Berastagi, sebuah pasar yang terkenal dengan pasar
buahnya dan juga pasar souvenir karena tempat ini adalah sebuah objek wisata
dengan view nya yang indah dan suhu udara yang sangat sejuk. Aku dan para
sahabatku mulai memburu ke pasar buah dan dilanjutkan ke toko souvenir. Di
sana, kami memutuskan untuk membeli baju dengan warna dan motif yang sama.
Untuk identitas persahabatan kami. Setelah itu aku dan kedua sahabatku kembali ke
bis. Kami terlalu lelah untuk berkelana lagi. Sedangkan 3 orang lainnya masih
melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa lama di bis, beberapa anak mulai
datang termasuk Mario dan beberapa anak geng nya.
“Sra kamu nggak ngasih apapun ke aku sebagai kenangan?”
tanya nya tiba-tiba
“Kenapa aku harus ngasih kamu sesuatu?” tanyaku yang
membuatnya langsung diam
“Ya kita kan teman”
“Yang lain juga teman aku tapi mereka nggak minta”
“Sondang beliin aku ini loh” ucapnya menunjukkan sebuah
gelang di tangannya
“Terus kenapa? Hubungannya sama aku apa?”
“Dasar nggak peka” sahutnya
“ Hah nggak peka gimana?” tanyaku
Namun dia langsung menarik pergelangan tanganku dan
memakaikan sebuah gelang yang terbentuk dari potongan-potongan bambu dengan
diameter kecil. Dan di permukaan nya terukir E & M.
“Ini inisial nama kita” ucapnya
“Untuk apa?” tanyaku
“Jujur aku kecewa kamu nggak ngasih apa pun untuk
kenangan perpisahan kita. Sondang aja membelikanku sesuatu tapi kamu
tidak”
“Terus apa?”
“Sebenarnya selama ini cuma ada 2 cewek yang menarik
perhatianku di sekolah, kamu dan Sondang. Tapi aku lebih dekat sama kamu dan
aku lebih suka sama kamu. Jadi aku beli gelang ini cuma buat kamu aja”
“Oke makasih” ucapku seraya berlalu tapi dia segera
meraih tanganku.
“Hanya itu?”
“Lalu kamu mau apa?”
“Apa kamu bodoh atau hanya pura-pura bodoh. Aku baru saja
mengungkapkan perasaan aku”
“Aku tau. Dan aku juga udah jawab makasih” candaku
“Cima gitu? Benar cuma gitu aja?”
“Maaf kalau kamu kecewa. Tapi kamu tau kalau aku harus
fokus untuk persiapan test kan. Maaf ya untuk sekarang aku belum bisa” ucapku
seraya melangkahkan kaki masuk bis meninggalkan dia yang masih diam berdiri.
Aku memang jahat langsung menolaknya bahkan tanpa memikirkannya lagi. Tapi ini
yang sudah aku putuskan. Aku hanya ingin belajar dengan baik. Aku belum
memikirkan hal seperti pacaran. Cita-cita aku lebih penting. Dan aku akan
selalu berusaha buat mama bangga dengan prestasi aku, baik sekarang maupun
nanti.
“Mario maaf. Aku harus mengejar cita-citaku sekarang.
Kalau kita memang berjodoh, pasti kita akan dipertemukan lagi.” batinku
Aku melangkah kembali ke bis saat tiba-tiba seseorang
menanggil namaku.
“Sra.”
Aku menoleh. Mencari asal suara yang memanggil namaku.
Dan dia di sana, Zian. Berada lurus dihadapanku kira-kira sejauh 3 meter dengan
pandangan tertuju padaku.
“Oh hi” sapaku sopan
“Bisa bicara sebentar?”
“Oh oke”
Akhirnya kami berdua berjalan menuju sudut parkiran.
Sedikit menjauh dari bis rombongan sekolah agar tidak ada yang mendengar
pembicaraan kami.
“Aku mau minta maaf” sahutnya memulai pembicaraan
“Hah maaf buat
apa?” tanyaku dengan setengah tertawa berusaha untuk mencairkan suasana karena
merasa terlalu canggung.
“Semuanya. Yang terjadi beberapa bulan terakhir ini”
Dia diam sejenak. Beberapa kali dia berusaha berbicara
tapi seakan terlalu berat untuk diungkapkan. Akhirnya dia menarik napas dan
mulai bicara.
“Sebenarnya aku
gak tau harus mulai dari mana sra. Tapi kamu harus tau yang sebenarnya”
Aku hanya mengangguk memberikan isyarat agar ia
melanjutkan ucapan nya.
“Tentang apa yang anak-anak bicarakan di sekolah tentang
kedekatan aku sama kamu itu semuanya benar”
“Maksudnya?”
“Iya saat anak-anak bilang aku dekat sama kamu dengan
tujuan aku bisa belajar sama kamu dan demi nilai itu semua benar”
Jujur waktu itu aku speechless. Gak tau harus berkomentar
apa. Cukup lama sampai akhirnya aku bisa berbicara lagi.
“Lalu kenapa?”
“Kamu nggak marah?”
“Everybody have a reason to do something right?”
“Kamu gak kecewa sama aku?”
“Kecewa? Buat apa. Toh banyak orang melakukan hal yang
sama. Kalau aku jadi kamu juga mungkin akan melakukan hal yang sama. Mencari
orang yang bisa memberikan keuntungan, iya kan?”
“Sra plis jangan begini. Aku tau kamu marah. Bentak aja
aku. pukul aku atau lakukan sesuatu”
“Kenapa aku harus melakukan itu”
“Karena aku merasa bersalah sama kamu. Aku berbuat salah
tapi tidak mendapat hukuman dan itu menyakitkan”
“Oh jadi sekarang kamu minta aku marah dan bentak-bentak
kamu biar kamu merasa lebih baik kan? Gak akan”
“Sra plis”
“Buat apa? Toh semua gak akan berubah. Gak ada artinya”
“Buat aku berarti. Biar aku bisa jujur sama kamu”
“Kenapa? Ada kebohongan lain lagi?”
“Bukan kebohongan. Lebih tepatnya pengakuan”
Aku diam. Menunduk dan tidak tau harus berbuat apa lagi.
Aku gak tau apa yang ada di kepla anak ini sekarang.
“Sra aku minta maaf karena punya tujuan tersebunyi saat
dekat dengan kamu. Maaf juga karena setelah kejadian anak-anak di sekolah aku
gak jelasin semuanya sama kamu dan malah menghilang.”
“Iya aku kecewa karena kamu menghilang dan gak bicara apapun
tentang semuanya” sahutku kemudian.
“Aku minta maaf. Tapi alasan aku menghilang karena aku
malu sama kamu”
“Malu? Kenapa?”
“Iya malu. Karena aku sadar. Setelah semua yang aku
lakuin sama kamu, gak seharusnya aku punya perasaan sama kamu”
“Perasaan? Maksudnya kamu suka sama aku?” tanyaku to the
point
Aku melihat dia malu dan menghindari pandanganku. Dia lucu saat bertindak salah tingkah begini
“Apa kamu harus bertanya sefrontal itu? kamu buat aku
malu”
“Jadi beneran kamu suka sama aku?” tanyaku menggodanya
“I...i.iya” jawabnya terbata “Aku gak tau tepatnya kapan.
Awalnya aku chatting sama kamu, ngobrol sama kamu dengan tujuan biar bisa
ngajak kamu belajar bareng dan bahkan bahas tugas. Tapi setelah beberapa lama
dekat sama kamu, aku mulai merasa kalau aku nyari kamu, kamudian chatting sama
kamu hanya sekedar alasan biar bisa ketemu dan ngobrol sama kamu. Karena itu
buat aku senang. Setiap dengar suara kamu di kantin sekolah dari kelas aku, gak
tau kenapa aku senang. Bahkan kadang suka ngintip keluar jendela cuma mau liat
kamu walau dari jauh” ungkapnya masih malu-malu
Aku senang? Of course yes. Karena sebenarnya aku juga
udah nyaman dekat sama dia walaupun aku belum tau apakah ini perasaan suka atau
nggak.
“Trus?” tanyaku
“Aku gak minta kamu maafin aku. Aku juga gak minta kamu
buat suka sama aku atau jadi pacar aku sekarang”
“Trus ini semua buat apa?”
“Aku menungkapkan semuanya karena aku gak mau memendam
perasaan aku terus-menerus sra. Karena aku gak mau menyesal nantinya.
“Bisa gak ngomongnya langsung aja gak muter-muter?”
“Aku suka kamu sra. Tapi aku gak minta kamu jadi pacar
aku sekarang karena kita harus lanjutin sekolah kita dulu. Lusa aku bakal pergi sra. Aku lanjutin
sekolah ke Jakarta.”
Kaget, sedih dan mau marah. Kenapa dia harus ngaku tapi
sekarang malah mau pergi. Apakah ini pertanda kalau aku gak berjodoh sama dia.
Atau salah satu cara Tuhan agar kami berjuang untuk masa depan kami dulu. Aku
tidak tau.
“Oh gitu. Good for you” sahutku akhirnya
“Maaf Sra. Aku kurang berani untuk mengakuinya lebih
awal”
“Gak papa. Toh kita memang harus ngejar cita-cita kita
kan”
Dia
mengangguk. Malam itu, setelah pengakuannya yang tiba-tiba, dia datang
mengulurkan tangannya kearahku.
“Apa
kamu tidak akan menerima uluran tanganku lagi?”
“Untuk
apa?” tanyaku
“
Salam perpisahan”
Aku
menerima uluran tangannya dan aku merasakan tangannya yang dingin.
“Selamat
atas kelulusan kamu. Aku tunggu kabar bahagia kalau kamu lulus di sekolah itu”
ucapnya seraya memberikan senyum
“Kamu
juga selamat udah lulus. Selamat udah mau jadi anak SMA sekarang. Safe flight ya”
“Sampai
jumpa lagi”
“Ya”
Waktu
itu kita berjabat tangan cukup lama dan saling menatap. Tanpa kata tapi begitu
banyak makna di balik tatapan itu. Aku tersenyum dan dia menarik tubuhku lalu
memelukku lama sekali.
“Aku sayang kamu Sra. Good luck ya” ucapnya
“Ya
see you on top” balasku
Malam
itu, malam yang panjang. Malam yang penuh kenangan. Aku ingat apa yang Zian
ucapkan” kita harus lanjutin sekolah kita dulu”. Ya dia benar. Cita-cita lebih
penting sekarang dari segalanya. Aku harus fokus buat persiapan test ku
beberapa hari mendatang.
Terimakasih
Zian. Terimakasih sudah mengingatkanku bahwa sekolah adalah yang utama.
Terimakasih juga karena sudah menyayangiku. Sekarang kita harus berpisah untuk
cita-cita kita masing-masing. Aku berdoa suatu hari nanti kita bisa ketemu lagi
saat kita sudah berhasil menjadi apa yang kita inginkan. Selamat tinggal masa
smp. Masa saat pertama kali aku mengenal cinta.
~end~
Komentar
Posting Komentar