Love, Yes or not?? #1

 PROLOG


Malam itu, setelah pengakuannya yang tiba-tiba, dia datang mengulurkan tangannya kearahku disertai senyuman.

“Apa kamu tidak akan menerima uluran tanganku lagi?”

“Untuk apa?” tanyaku

“ Salam perpisahan”

Aku menerima uluran tangannya dan aku merasakan tangannya yang dingin.

“Selamat atas kelulusan kamu. Aku tunggu kabar bahagia kalau kamu lulus di sekolah itu” ucapnya seraya memberikan senyum

“Kamu juga selamat udah lulus. Selamat udah mau jadi anak SMA sekarang. Safe flight ya” ucapku dengan senyum tulus 

“Sampai jumpa lagi”

“Ya”

Waktu itu kita berjabat tangan cukup lama dan saling menatap. Tanpa kata tapi begitu banyak makna di balik tatapan itu. Aku tersenyum dan dia menarik tubuhku lalu memelukku lama sekali.

“Aku sayang kamu Sra. Good luck ya” ucapnya

***

Siang itu aku menerima surat kelulusanku yang telah diberikan kepala sekolah ke setiap orang tua siswa. Aku dinyatakan lulus dari sekolah dasar yang sudah kutempati selama 6 tahun. Menjadi siswa SMP belum membuatku semakin dewasa. Hal ini terjadi saat mama mengambil keputusan untuk mendaftarkanku ke SMP N 2. Hanya karena teman masa kecilku masuk di sekolah itu sedangkan teman dekat ku dari sd berada di sekolah yang lain. Tapi aku tidak bisa menentang mama. Aku hanya menurut apa yang ia katakan padaku. Saat pertama masuk ke sekolah tersebut, kami sudah disambut oleh kakak senior yang akan melakukan masa orientasi siswa baru. Dimana- mana penderitaan siswa yang di ospek selalu sama, menjadi bahan bulian untuk kakak senior. Selama 3 hari menjalani masa ospek, akhirnya penderitaan itu selesai. Dapat kelas baru, mulai belajar dan kenal dengan teman yang baru juga. Di saat itu lah untuk pertama kalinya aku bertemu dengan dia, Mario. Seorang cowok yang sejak hari pertama belajar selalu cari masalah denganku. Dia dan teman-temannya selalu buat keributan di kelas yang akan mengganggu konsentrasi anak-anak yang lain.

“Kalian bisa diam nggak?” tanyaku dengan suara tinggi

“Kalau nggak bisa kenapa? Kamu mau apa?”

“Kalau mau ribut di luar sana” bentak ku

“Aku nggak mau. Ini kelas kita juga. Kalau kamu merasa terganggu ya silahkan keluar”

“Dasar tukang onar” ucapku kesal

Saat- saat marah seperti itu membuat sahabatku Yeni mulai menenangkanku.

“Sabar Es. Biarin aja mereka”

“Hhmm.”

Aku akhirnya memilih untuk diam dan membiarkan mereka melanjutkan kegiatan aneh mereka. Memang hampir tiap hari aku harus ribut dengan mereka hanya karena masalah kecil. dan nggak tahu kenapa aku malah semakin benci sama mereka karena sering buat onar. Dan tidak jarang karena kenakalan mereka, kelas kami disemprot oleh omelan kepala sekolah saat apel pagi.

          Setelah apel pagi selesai, Bu Denny sebagai wali kelas kami datang dan memberikan beberapa pengumuman.

“Selamat pagi anak-anak”

“Pagi bu”

“Ibu mau menyampaikan beberapa hal untuk kalian. Untuk beberapa hari ini, kelas kita menjadi sorotan oleh pihak sekolah karena kenakalan beberapa teman kalian. Ibu harap tidak ada yang bolos kelas dan tidak ada yang buat ribut ketika jam pelajaran baik disaat ada guru atau tidak. Paham semuanya?”

“Iya bu”

“Bu saya mau kita buat aturan kelas untuk yang ribut” ucapku memberi saran

“Ide bagus Esra. Gimana yang lain setuju?”

“Saya tidak setuju bu” sahut Mario menimpali

“Iya kenapa Mario?”

“Saya tidak setuju bu. Karena bisa aja seseorang ribut karena masalah pelajaran.”

“Iya bu. Bisa jadi karena diskusi pelajaran” timpal Erik

“Menurut saya kalau ributnya karena pelajaran atau tidak akan menjadi tanggung jawab si penilai bu”

“Gimana yang lain? Apa ada yang masih ingin berpendapat?”

“Setuju bu”

“ oke. Karena semua sudah setuju, kita akan sepakati aturannya. Ada yang ingin berpendapat?”

“Denda bu”

“Hormat bendera bu”

“Disuruh keluar bu”

Setelah begitu banyak pendapat lainnya, maka keputusannya adalah setipa orang yang ribut di kelas akan dikenakan denda Rp5000 setiap membuat keributan. Dan setelah diskusi dengan kelas maka aku dinobatkan sebagai tim keamanan di kelas ini. jadi aku yang akan memberikan laporan kepada wali kelas.

“Dan satu lagi. Setiap tahun siswa terbaik selalu dari kelas ini. saya harap untuk tahun ini juga demikian. Belajar lah dengan baik”

Dan pesan terakhir bu Denny merupakan pertanda bahwa perang antara aku dengan Mario and geng dimulai. Sejak pertemuan dengan wali kelas saat itu, mereka semakin membuat onar. Dan sejak saat itu, impianku untuk belajar tenang di sekolah ini tinggal hayalan. Mereka selalu membuat masalah denganku. Setiap bertemu pasti ribut. Nggak dikelas, di kantin, di gerbang sekolah bahkan di jalanan sekalipun. Dan dia selalu mengejekku karena pulang dengan berjalan kaki.

“Aduh kasihan. Capek ya jalan. Kalau kamu minta maaf mungkin aku akan berbaik hati buat ngasih tebengan”

“Nggak butuh. Udah pergi sana. Jangan ganggu aku”

“Dasar cewek sombong. Makan tuh debu jalanan”

Tidak selesai sampai di situ. Mereka akhirnya kembali membuat onar di kelas dan mengganggu teman yang lain.

“Diaaaammmm” bentakku dengan suara lantang

“Kenapa?” tanya Mario

“Kalau kamu nggak bisa diam, aku akan paksa kamu untuk diam” ucapku seraya mengepalkan tangan

Untuk sementara cara ini berhasil. Mereka benar-benar diam. Tapi beberapa menit berselang mereka mulai ribut lagi. Dan Plaakk.. sebuah kapur tulis tepat mengenai wajahnya.

“Eh kamu apa-apaan sih. Main lempar seenaknya. Kamu pikir kamu siapa hah?”

“Kamu yang duluan buat ribut. Aku udah peringatin kamu ya”

“Apa kamu pikir karena wali kelas nugasin kamu buat nulis yang ribut kamu bisa seenaknya?” ucapnya dengan luapan emosi dan dia mulai berjalan ke arahku dengan wajah merah karena menahan amarah.

“Jangan mendekat!” tantangku. Bersyukur suara ku tidak bergetar sama sekali

Dia semakin mendekat dan menangkap tanganku. Dia menggenggamnya dengan kuat sampai aku merasa kesakitan

“Lepasin” ucapku seraya meronta

“Dengar cewek sombong, kamu bukan siapa-siapa di sini. Jadi nggak usah sok jagoan. Apa karena kamu pintar kamu merasa hebat hah? Nggak usah sok hebat”

“ Aku nggak sok jagoan. Dan aku bukan tipe orang yang menjadikan kepintaran untuk kesombongan. Tapi karena kamu bicara begitu, aku akan buktikan kalau aku memang jauh lebih hebat dari kamu.Tanpa aku buktikan pun semua orang udah tau. Nilai aku lebih tinggi dari kamu karena aku bukan kaya kamu dan teman-teman kamu yang bisanya cuma main dan saat ujian nyari contekan”

Aku melangkah pergi ke tempat dudukku saat dia juga menghampiri mejaku.

“Hah kamu makin sombong sra. Kamu merasa sudah di atas angin hah. Dan kamu juga lupa cara menghargai orang”

“Aku tidak tahu cara menghargai orang kaya kalian”

“Kenapa? Gak ada yang ngajarin ya di rumah. Karena dirumah gak ada yang peduliin kamu. Keluarga gak jelas”

PLAAAKKK...

Telapak tangan aku tepat mendarat di pipi kirinya. Dan sepertinya dia cukup kaget dengan apa yang baru saja kulakukan. Aku benar-benar sakit hati mendengar ia bicara begitu tentang keluargaku.

“Kamu boleh hina aku apa aja. Tapi jangan pernah hina keluarga aku atau aku bisa melakukan yang lebih dari ini” mataku berkaca-kaca menahan air mata. Aku langsung berpaling darinya karena aku tidak ingin dia mengetahui titik kelemahanku.

Sejak saat itu, aku memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan mereka. Tapi ternyata takdir berkata lain. Aku harus tetap berhadapan dengan mereka untuk ketentraman kelas.Namun walau begitu, prestasiku di sekolah ini mulai terlihat. Saat pengumuman nilai semester pertama, aku berhasil meneruskan sejarah dan memenuhi harapan Bu Denny. Nilai aku berada di posisi pertama. Aku tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan kebahagiaanku saat itu. Dan saat Bu Denny masuk ke ruangan pun dia mengungkapkan kebanggaannya kepadaku. Tapi hal itu justru membuat tim Mario makin benci dan marah padaku.

“Terbukti kan. Aku bukan sombong tapi aku udah buktikan kepintaran aku”

“ Jangan sombong. Ini masih semester awal. Aku akan pastikan kalau kamu gak akan ada di posisi ini sampe akhir. Ingat itu” 

Dia pergi dengan dengan wajah kesal. But i don’t care. Aku terlalu senang hari ini.

***

       Semester 2 pun tiba. Saat semua orang dengan wajah cerah melangkah masuk ke pelataran sekolah. Mungkin di antara semua siswa, hanya aku yang kurang semangat. Karena aku tau bahwa aku akan berurusan lagi dengan Mario dan teman-temannya. Tapi sepertinya ada yang berubah. Dia tidak terlalu ribut lagi. Bahkan untuk beberapa kesempatan dia belajar sangat tekun. Hal ini berlanjut hingga ke pertengahan semester 2. Mendekati UTS, guru fisika membagi kami dalam beberapa kelompok dan sialnya aku satu kelompok dengan Mario. Pak Beny memang sengaja membuatku berdua dengan Mario karena selama ini nilai dia sangat kurang dari cukup. Dan welcome to the big problem. Satu kelompok dengan dia membuat hari-hariku berjalan lambat. Apalagi setiap ketemu untuk urusan tugas, dia selalu sibuk sendiri dan terkesan tidak mau membantu. Satu bulan lebih setelah pemberian tugas, artinya 2 hari lagi adalah waktu pengumpulan. Tugas kali ini akan menjadi nilai uts untuk mata pelajaran fisika.

Hari –H pengumpulan

“Eh tugas laporan mana?”

“Gak ada di aku”

“Kan kemarin aku minta tolong kamu bawa print-in sekalian buat dipelajarin untuk presentasi”

“Oh iya? Kapan? kayanya gak ada deh. Seinget aku gak ada”

Dan satu lagi masalah baru. Saat kita diberi giliran untuk presentasi. Pak Beny tetap mengijinkan kita presentasi walau tanpa jurnal laporan. Dan saat menentukan seperti ini, dia tidak tahu apa pun.  Bahkan untuk menjawab pertanyaan mudah pun dia tidak bisa.

“Esra kamu tau kenapa bapak mengelompokkan kamu degan Mario? Biar kamu bisa ajarin dia. Tapi sepertinya penelitian ini hanya kamu lakukan sendiri. Benar?”

Aku hanya diam. Dan sudah tidak ada keberanian untuk berargumen dengan pak Beny.

“Untuk kelompok ini saya beri nilai 50. Karena tidak mengumpulkan laporan dan tidak ada kerja sama tim”

Aku pasrah dan segera duduk. Membiarkan setiap pasang mata melihatku dengan rasa kasihan. Tanpa terasa air mata aku jatuh. Hari yang benar-benar menyedihkan. Memuakkan. Untuk pertama kalinya aku mendapat nilai 50. Dan yang lebih parah lagi adalah bahwa ini adalah nilai Uts.

“Kamu nangis?”

Aku hanya diam saja. Dan bahkan sampai bel pertanda pembelajaran selesai aku masih saja diam kepadanya.

“Apa kamu masih marah?”

“Jangan ganggu aku.”

“Hey kenapa? Marahin aja aku. Bentak. Pukul sekalian. Tapi jangan diam gini dong”

“Aku udah bilang jangan ganggu aku. Tapi sekarang kamu mau aku marah? Iya aku marah. Aku tau ini semua rencana kamu buat hancurin aku. Selamat. Sepertinya rencana kamu untuk melengserkan aku dari posisi itu berhasil. Puas?”

Aku pergi dan sejak saat itu hingga akhir semester aku benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan mereka. Pengumuman hasil studi semester 2 telah keluar dan seperti apa yang telah ku duga. Nilai aku turun dari posisi 1 ke peringkat 3. Benar- benar keadaan yang mengecewakan. Hal itu membuatku sangat frustasi. Awalnya aku memang biasa aja. Tapi saat wali kelas menghampiriku, air mataku jatuh juga.

“Tidak papa Esra. Kamu jangan menyerah. Ini biasa terjadi. Ibu yakin kamu bisa bangkit lagi”

Aku mengangguk masih dengan air mata di pipi. Aku tak kuasa menahan air mataku untuk tidak jatuh. Aku terlalu sedih dan kecewa. Selama pengumuman, aku hanya berdiam diri. Bahkan saat teman-teman ku menyapa, aku masih saja diam.

Saat aku dan Yeni hendak pulang, dia datang mendekatiku dan berupaya untuk berbicara denganku.

“Maaf”

Aku menoleh dan segera membalikkan badan untuk melanjutkan langkahku.

“Aku bilang maaf” Sahutnya

“Lalu kenapa? Apa dengan maaf kamu keadaan bakal berubah? Nggak kan”

“Aku tau keadaan tidak akan berubah. Tapi aku mau kamu tau kalau aku gak ada maksud buat nilai kamu turun”

“Sudah ya. Aku capek. Mau pulang”

Aku segera mengajak Yeni untuk pulang meninggalkan dia yang masih berdiri memandangi kepergianku. 

***

Setelah kejadian yang menimpaku di kelas 1, aku sangat berharap untuk tidak sekels dengan Mario dan geng nya. Aku berharap ada perubahan kelas di sekolah ini. Tapi sepertinya harapanku tidak terpenuhi. Saat pertama kali masuk kelas, aku masih menemukan mereka di kelas yang sama denganku. Hal itu membuatku sedikit muak. Aku benci bertemu lagi dengan mereka.  Saat wali kelas – Bu Lidya mulai masuk dan membicarakan untuk pemilihan wakil dan ketua kelas, anak-anak mengajukan namaku untuk menjadi ketua kelas. Namun aku menolak dengan keras.

“Maaf bu tapi saya tidak bersedia menjadi ketua kelas.”

“Kenapa? Apa ibu boleh tau alasannya?”

“Saya merasa tidak mampu. Dan saya sedang ingin fokus belajar saja”

Dan berakhir di situ. Argumen aku berhasil dan pemilihan masih terus berlanjut. Saat waktu istirahat, dia datang menemuiku.

“Apa kamu masih marah?”

Aku tetap diam. Aku bahkan memilih untuk bergabung dengan beberapa temanku pergi ke kantin sekolah. Tapi dia masih mengikutiku dan hal itu membuatku sedikit risih dan tidak nyaman. Setiap hari dia selalu berusaha mengajakku bicara untuk meluruskan apa yang terjadi di kelas 1.

“Tak bisakah kamu mendengarkanku dulu?” tanyanya seraya menarik pergelangan tanganku

“Soal apa? Apa kalian masih belum baikan?” tanya Sri salah satu sahabatku

“Sepertinya pertanyaan itu dia yang harus jawab” ucapnya melepas tanganku

“Udahlah. Aku udah bilang kan lupain aja?” sahutku menimpali

“Lalu? Apa setelah aku lupain semuanya kita akan baik-baik aja? Atau kita akan terus seperti ini? Tidak saling menyapa. Kamu bahkan tidak memberiku kesempatan bicara”

“Apa kita sedekat itu untuk saling menyapa? Bahkan sebelum ada masalah ini pun kita tidak pernah saling menyapa. Karena itu aku minta lupakan”

“Oke. Aku akan lupakan masalah ini. Tapi kamu jangan mengacuhkanku lagi. Kau selalu bertindak seolah aku tidak ada. Tolong”

Aku hanya diam dan beranjak pergi.

Hari demi hari berlalu begitu juga dengan ujian tengah semester. Hasil ujian tengah semester tidak terlalu memuaskan terutama dalam pelajaran Biologi. Disamping guru yang jarang masuk, aku memang kesulitan untuk mengikuti pelajaran tersebut. Hal itu membuatku sedikit takut untuk menghadapi ujian akhir semester. Setelah hampir satu bulan penuh aku mempersiapkan diri untuk ujian kali ini. Tapi tetap saja hatiku tidak tenang saat ujian hari pertama berlangsung. Teman-temanku berusaha menghiburku dan memberikan dukungan kepadaku. Dan dia juga melakukan itu. Pagi sebelum ujian berlangsung, dia menghampiriku dan memberikan semangat kepadaku.

“Semangat. Aku tau kamu bisa dapat posisi itu lagi”

Kalimatnya selesai disertai senyuman. Aku hanya diam

“Bagaimana ujian kamu?” tanya Christina, sahabatku yang lain

“Aku sudah berusaha keras. Tapi tetap saja aku khawatir untuk ujian Biologi dan Kesenianku”

Ya, aku memang lemah di dua mata pelajaran itu. Hal itu mungkin akan menghalangi aku untuk mengejar posisi pertama lagi. Dan memang benar. Saat hasil evaluasi semester ketiga keluar, aku sungguh kecewa tidak berada di urutan pertama. Tapi aku cukup kaget saat mengetahui bahwa orang yang mengalahkanku saat ini bukanlah orang yang sama dengan yang terjadi di semester kedua saat kelas 1 dulu. Tapi yang mendapat posisi pertama justru orang lain. Sedangkan orang yang sebelumnya di posisi pertama kini berada di posisi ketiga, satu tingkat persis di bawah aku. Ya nilai aku memang naik ke posisi kedua. Tapi tetap saja aku merasa malu. Dia mengalahkan kami dengan sekali percobaan. Cukup iri melihat dia melakukan dengan baik.

***

Di semester ke-4, aku makin berusaha untuk bisa menempati lagi peringkat pertama. Bagaimanapun aku belum menyerah. Aku ingat seseorang pernah bicara kepadaku bahwa kita tidak boleh menyerah selama kita belum mencapai batas kemampuan kita. Jadi aku akan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Akhirnya perjuanganku terbalaskan saat penerimaan hasil ujian akhir semester 4. Aku berhasil. Saat melihat hasil itu terpampang di papan pengumuman, cukup bangga melihat namaku berada di posisi pertama. So proud of course. Aku pulang ke rumah dengan membawa sejuta bahagia. Saat itu aku percaya bahwa kerja keras tak akan berkhianat. Saat kamu berusaha, maka kamu akan menuai hasilnya.

          Menjadi orang paling senior di sekolah membuat kami para siswa kelas 3 harus bersikap baik. Tapi tetap saja beberapa anak akan berlagak sok jago di sekolah ini. Dan aku paling benci dengan hal seperti itu. Aku paling benci dengan orang yang mendapat julukan yang diawali kata sok. Sok baik, sok pintar,sok cantik dan banyak lagi. Tapi apa daya aku tak punya kekuatan untuk mengalahkan mereka. Mereka yang mendapat julukan itu adalah orang-orang top sekolah. Bukan hanya karena prestasi mereka melainkan karena penampilan dan status keluarga mereka, kelas 3-1. Rata-rata nilai kelas mereka memang selalu terbaik bahkan mereka selalu menjadi kelas percontohan oleh kepala sekolah setiap bicara tentang kedisiplinan dan kerajinan. Mereka memang selalu mendapat posisi pertama dalam perlombaan kelas terbaik. Yang selalu tertib, rapi dan bersih. Karena itu mereka selalu merasa diatas angin di sekolah ini. Mendapat perlakuan baik dari hampir setiap guru membuat mereka membatasi pergaulan mereka dengan kelas yang lain. Ya mereka hebat tapi apa gunanya jika kamu hanya diam di kelas dan tidak bertemu orang lain.

Dibandingkan dengan kelas 3-1, mungkin kelas yang aku tempati sekarang adalah kelas yang paling cocok dijadikan sebagai contoh terburuk. Kondisi kelasku, 3-4 adalah segala hal yang bertolak belakang dengan kelas terbaik itu. Kelas yang selalu menjadi sumber masalah sejak semester pertama. Kelas yang tidak pernah diam, kelas yang selalu menjadi penghasil sampah terbanyak setiap harinya. Benar-benar tidak ada yang dapat dibanggakan. Prestasi? Walau di kelas ini tempat siswa yang berhasil menyabet peringkat pertama sekolah, namun di kelas ini juga lah tempat siswa dengan peringkat terakhir. Selama dua tahun ini kelas kami selalu menjadi kelas dengan orang-orang yang memiliki nilai terendah di sekolah ini. Bukan hanya masalah itu, tapi kelas 3-4 juga dikenal dengan kelas paling malas. Setiap guru yang masuk di jam pelajaran pertama akan mendapati kekecewaan karena jumlah siswa yang hadir tepat waktu sangat jauh dari harapan. Dari 32 siswa, hanya ada 15 siswa yang akan ditemukan di kelas jam 07.15 wib. Bukan kelas  3-4 namanya jika tidak banyak yang terlambat. Bukan hanya terlambat 3-5 menit, kebanyakan siswa di kelas ini terlambat hingga 30 menit. Dan setiap dipertanyakan, selalu ada saja alasan yang kadang mengundang gelak tawa setiap orang yang mendengarnya. Yang harus ngasih makan ternak dulu lah atau yang bantu mamanya jemur cucian lah dan masih banyak lagi alasan-alasan konyol lain nya. Entah mengapa kejadian ini semakin parah saja. Saat kami berada di kelas 1 dan di kelas 2 tidak separah ini. Walaupun ada yang terlambat, biasanya hanya 1 atau 2 orang dan itu juga dengan alasan yang logis. Namun sekarang semua seakan melakukannya dengan sengaja. Toh juga kami sudah kelas 3 dan sebentar lagi akan meninggalkan sekolah ini. Sekarang kelas ini benar-benar tidak tertolong dalam hal apapun. Satu hal yang mereka sukai hanyalah musik. Saat belajar kesenian, semua begitu antusias. Setelah itu semua akan kembali seperti semula.

   Sebagai kelas terbaik dan terburuk, membuat siswa kelas 3-1 tidak memiliki hubungan baik dengan siswa dari kelas 3-4. Siswa kelas 3-4 yang terkenal dengan sifat extra extrovert nya seakan tiba-tiba berubah menjadi introvert saat berpapasan atau bertemu dengan siswa 3-1. Sebenarnya bukan hanya berselisih dengan kelas 3-1, kelas kami juga tidak berhubungan baik dengan kelas 3-6. Masalahnya adalah kelas 3-6 selalu menjadi saingan terberat kami dalam hal kesenian. Bukan karena mereka jago musik atau semacamnya, tapi setiap kali ada penampilan yang mewakili sekolah dalam hal kesenian, kelas itu selalu terpilih karena penampilan mereka yang menarik. Ya memang kelas itu adalah tempat berkumpunya orang-orang cantik dan tampan. Namun tetap saja itu tidak adil. Hal itu membuat aku dan teman-temanku yang lain merasa kecewa dan semakin sering membuat masalah di sekolah ini.

 Seberapa keras pun aku berusaha untuk tidak terlibat dengan kedua kelas itu, aku akhirnya harus masuk dalam lingkaran mereka. Sebagai ketua kelas terpilih di kelas ini membuatku harus sering bertemu dengan siswa 3-1 dan kelas 3-6. Ditambah lagi karena beberapa lomba yang akan aku ikuti membuatku harus belajar tambahan bersama dengan beberapa siswa dari kelas terbaik itu. Kadang teman-teman sekelasku mengingatkan aku untuk tidak bersikap baik dengan mereka. Jangan terlalu dekat. Hanya lakukan apa yang kamu perlukan untuk lomba dan keperluan ketua kelas. Aku akui bahwa kadang aku juga melanggar hal itu. Karena dari pengalamanku bersama dengan mereka, cukup baik. Dan mereka tidak seburuk apa yang kami pikirkan selama ini. Mereka enak di ajak bicara, orang yang open minded banget malah. Mereka selalu bersikap demokratis dalam setiap rapat osis dan ternyata mereka memiliki pandangan yang fair untuk setiap kelas. Hal itu membuat aku sedikit demi sedikit menjadi dekat dengan mereka. Bahkan kami saling bertukar nomor handphone sesama ketua kelas. Walaupun tanpa sepengetahuan teman-temanku di 3-4.

Ternyata bagaimanapun aku menutupi kedekatanku dengan siswa dari kelas 3-1 dan 3-6, akhirnya ketahuan juga. Hal ini dikarenakan gosip yang beredar bahwa aku sedang dekat dengan ketua kelas 3-6, Madya. Entah dari mana gosip itu berasal, yang pasti gosip itu sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Bahkan ibu kantin yang memang dekat denganku mempertanyakan kebenarannya. Begitu juga dengan bu Salma, petugas perpustakaan yang sudah aku anggap seperti ibu aku sendiri. Jika terjadi sesuatu, hanya dia tempatku cerita di sekolah ini. Bukan wali kelas atau guru konseling, tapi dia. Seorang ibu muda yang sangat baik dan hangat.

“Bukannya kelas kamu tidak dalam hubungan yang baik dengan kelas mereka? Kok bisa pacaran?” ungkapnya mengejekku saat aku mulai masuk perpustakaan saat jam istirahat

“Yah ibu juga percaya gosip seperti itu?”

“Tidak” ucapnya  menggeleng dan tersenyum

“Syukurlah. Paling tidak ibu di pihakku”

Aku lantas menjelaskan bagaimana sebenarnya gosip itu beredar. Bukan hanya kepada bu Salma tapi juga pada teman-teman sekelasku. Hal itu karena kejadian 2 hari yang lalu saat aku dan Madya pulang bersama selepas rapat osis dan saat itu kami bertemu dengan salah satu anak 3-6. “Pasti gosip itu dari dia” ucapku mengakhiri ceritaku. Beberapa temanku bisa terima tapi tetap saja ada beberapa yang protes keras karena kedekatan aku dengan ketua kelas 3-6 itu.

“Tapi kenapa harus pulang sama dia?” tanya Mario

“Kita searah. Apa ada yang salah dengan itu?”

“Tapi mereka musuh kelas kita” lanjut seseorang di kelas itu

“Aku tidak pernah menganggap mereka musuh. Dan mereka juga baik-baik aja dengan kita. Setiap di rapat osis mereka selalu bersikap adil kok untuk setiap kelas” lanjutku

Dan untuk waktu yang lama kelas itu menjadi pusat debat untuk memutuskan status ketiga kelas itu.

“Tapi kayanya gosip itu benar melihat bagaimana kamu membela mereka” lanjut Erik

“Ya kamu mau mati?” bentakku mengangkat tinjuku

Semua orang spontan tertawa. Aku hanya bisa memandang mereka dengan muka cemberut.

“Ini baru Esra kita yang dulu” lanjut Mario

Dan masalah terselesaikan. Bahkan aku telah menyelamatkan pertemanan antara 3 kelas itu. Sejak hari itu, hubunganku dengan teman-temanku kembali membaik. Begitu juga dengan hubunganku dengan ketua kelas lainnya. Awalnya sangat malu jadi trending topik di sekolah saat aku di gosipkan dengan Madya. Namun lama-kelamaan hal itu mulai hilang. Aku menjalani hariku dengan biasa lagi.  

***

5

Semakin dekat waktuku meninggalkan sekolah ini, aku semakin percaya satu hal. Semakin kita menyadari sisa waktu  kebersamaan yang kita miliki, kita akan semakin dekat dengan orang di sekitar kita. Hal itu terjadi padaku. Dulu aku begitu marah dan benci dengan Mario and geng, tapi di saat terakhir seperti ini, aku justru paling dekat dengan mereka. Lebih dekat dibandingkan dengan beberapa sahabatku yang cewek. Ya aku memang punya geng yang beranggotakan 6 orang. Aku, Rachel, Dien, Sri, Antri dan Christina. Awalnya kami ada 7 orang dengan Marisa. Tapi karena satu lain hal, dia memilih meninggalkan kami. Kedekatan kami dimulai di kelas dua. Dulu aku hanya punya mereka dalam segala hal. Apapun yang kami lakukan, selalu bersama. Tapi berbeda dengan saat ini, saat kelas 3 semester akhir ini, aku lebih dekat dengan geng Mario seakan aku telah dilantik menjadi anggota baru geng itu. Ya walau mereka tidak membantuku dalam akademik dan bahkan sering menimbulkan masalah yang mengharuskan aku sebagai ketua kelas harus keluar masuk ruang wakil kepala sekolah dan ruang guru, tapi aku nyaman dengan mereka. Selain dengan para sahabatku, cuma mereka yang bisa membuatku tertawa lepas. Kedekatanku dengan teman-temaku yang lain juga berubah.  Bahkan kini aku sedang dekat banget dengan 2 orang cowok dari kelas 3-1, Hengky dan Zian. Mereka tidak terlalu pintar dan bukan pengurus kelas, tapi entah sejak kapan aku ketemu, bicara dan dekat dengan mereka. Tapi aku ingat pertama kali aku mulai melihat mereka saat aku ditugaskan oleh guru Kewarganegaraan untuk memberikan tugas kepada kelas mereka. Ya walaupun kelas 3-1 selalu mendapat perhatian guru, namun aku pribadi juga merasakan hal itu. Hampir semua guru dekat denganku. Terutama dengan 3 orang guru yang mengajar kami di kelas 3. Guru Kwn, Bahasa Inggris dan MM. Mereka bahkan sering meminta untuk memberikan tugas menggantikan mereka jika mereka akan terlambat masuk kelas karena sesuatu hal. Saat itu aku masuk ke kelas 3-1 dan sedikit gugup berada di depan anak-anak pintar ini sendirian.

“Permisi mau ketemu ketua kelas” ucapku dan sontak membuat mereka secara bersamaan melihatku.

“Kenapa Sra?” tanya Icha yang menjabat sebagai ketua kelas mereka

“Bu Helmi akan terlambat masuk. Aku diminta menyampaikan tugas buat kelas ini” lanjutku seraya memberikan sebuah buku.

“Sra Bu Helmi kemana?” tanya seorang anak dari sudut ruangan

“Ada rapat dengan kepala sekolah” jawabku setengah teriak

“Oke makasih ya Sra” sahut Icha

Aku mengangguk dan bergegas. Namun ada satu orang lagi yang teriak dari sudut ruangan yang sama.

“Sra kok pergi? Disini aja. Banyak anak-anak yang berharap kamu belajar di sini”

Aku hanya membalas ucapannya dengan senyuman dan pergi. Dan sejak saat itu aku kenal dengan dua orang itu, Ziansang penanya pertama sedangkan Hengky adalah orang yang  menyarankanku untuk tetap di kelas itu. Kedekatan kita berawal dari adegan abstrak itu. Walau sedikit konyol tapi itu faktanya. Dalam kehidupan nyata, aku lebih dekat dengan Hengky karena kami sama-sama orang yang tidak bisa diam. Selalu penuh dengan topik pembicaraan. Sedangkan kedekatanku dengan Zian berada di dunia maya. Obrolan kita berlangsung lewat chat. Namun ternyata aku dan Hengky tidak berjodoh karena akhirnya dia pacaran dengan salah satu teman sekelasku, Anggi. Dan karena keemberanku membicarakan hubungan mereka di depan anak-anak kelas 3-4 membuat aku harus menerima hukuman atas perbuatanku. Hengky juga membocorkan kedekatanku dengan Zian. Bukan hanya di kelasku dan kelasnya tapi dengan cepat berita itu menyebar di seluruh kalangan kelas 3. Benar-benar memalukan. Dan ini untuk kedua kalinya aku jadi trending topik. Dan itu sangat tidak nyaman. Kemana pun aku pergi selalu saja terdengar pembicaraan itu. Dan yang paling tidak nyaman adalah saat aku harus menghadapi Zian. Ya selain kita berasal dari kelas yang awalnya bermusuhan, ditambah lagi karena para junior harus membicarakan tentang perbedaan prestasi dalam hubungan ini. Banyak yang mulai membuat pendapat tentang kedekatan kami hanya strategi demi nilai dan ujian nasional. Bagaimana pun pendapat orang,dan walaupun itu benar- mengingat Zian pernah memintaku untuk belajar bersama, buat aku fine fine aja. Toh aku juga nyaman dengan dia. Tapi ternyata kejadian ini harus menjadi akhir untuk hubungan kami yang bahkan belum di mulai. Bahkan kedekatanku dengan dia harus berhenti di sini hanya karena kesalahpahaman oleh anak-anak. Zian menjauh dan segala komunikasi benar-benar terputus. Bahkan saat aku mengiriminya pesan untuk permintaan maaf, tidak ada balasan. Aku sadar dan memutuskan untuk melepaskan semuanya. Lagi pula aku tidak akan ada waktu untuk hal-hal seperti ini karena harus melakukan persiapan matang sebelum menghadapi ujian demi ujian hingga ujian nasional.

          Sekarang aku benar-benar hanya fokus belajar bersama dengan teman-teman sekelasku karena wali kelas memintaku untuk mengajari beberapa orang di kelasku. Semua pengalaman yang terjadi beberapa bulan terakhir ini harus terlupakan. Namun hari itu saat aku sedang mengikuti kelas bahasa Inggris dari Bu Sanni, dia memintaku untuk menemui anaknya di kelas 3-1. Dan spontan saja teman sekelasku langsung ribut tak jelas dan memandangku. 

“Selamat “Ucap para sahabatku dengan senyum mengejek. Dan dengan perasan enggan aku melangkahkan kaki ke ruang kelas 3-1 dimana mau tidak mau, mungkin aku akan melihat dia lagi dengan situasi yang jauh berbeda dari sebelumnya. Aku mengetuk pintu kelas mereka yang tertutup dan segera dibukakan oleh sang ketua kelas. Ternyata sedang tidak ada guru.

“Mau panggil David” ucapku yang langsung di respon dengan teriakan siswa 3-1.

Wooooooo....

“Waaaah kok malah manggilnya David sih Sra?” celetuk seseorang

“Sra Zian gak dipanggil nih?” teriak Hengky yang suaranya sudah sangat ku kenali

"Sra kok Zian nya gak di sapa?"

“Ada yang sakit hati nih”

David pun lalu berdiri dari kursinya dan bukannya datang menghampiriku tapi dia justru datang ke meja Zian dan Hengky dan menanyakan sesuatu.

“Zi gak papa kan?” tanyanya dengan ekspresi bercanda

Zian tidak merespon sedangkan suasana kelas semakin rame saja.

“Zi benar kan ngak papa?” tanya David semakin medekatkan wajahnya ke wajah Zian seraya tersenyum

“Udah sana bego. Lu gak liat kelas makin ribut ”ucapnya seraya mendorong David

“Huuuuu ada yang marah nih ” sahut anak-anak yang lain dengan kompak sedangkan aku hanya bisa diam dan menunggu David.

Aku lantas keluar kelas dengan David dan mengajaknya untuk ketemu Bu Sanni. Suasananya sedikit canggung setelah apa yang terjadi di kelas tadi. Kami tidak bicara sepatah katapun sampai aku masuk kembali ke kelas 3-4. Dan kembali belajar untuk persiapan ujian nasional.

***

Setelah ujian nasional berakhir, semua siswa kelas 3 mengadakan perayaan pelepasan di Hill Park, ya semacam Trans Studio Bandung versi mini karena wahananya tidak sebanyak dan selengkap di TSB. Saat keberangkatan, setiap kelas di bagi ke dalam satu bis.

“Sra lanjut kemana?” tanya Anggi

“Apa kamu harus tanya lagi? Bahkan sekolah sudah mendaftarkan dia di Kelas unggulan SMANSA” celetuk seseorang

“Oh iya?”

Aku mengangguk. Ya sekolah memang sudah mendaftarkan namaku untuk mengikuti test ke sekolah terbaik itu. Kelas unggulan SMANSA, sebuah sekolah unggulan yang telah terbukti menghasilkan siswa-siswi teladan yang lolos ke berbagai universitas ternama baik dalam dan luar negeri. Namun untuk masuk ke sekolah itu tidaklah mudah. Ada berbagai test dengan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda.  Setiap tahunnya kemungkinan masuk adalah 1 : 30.

“Wah hebat. Selamat ya”

“Masih terlalu dini buat ngucapin selamat. Bahkan setelah lolos pun aku tidak tau di ijinkan atau tidak masuk sekolah itu” ucapku

“Kenapa?”

“Ya kakak aku tidak setuju aku masuk asrama”

Begitulah pembicaraan kami sepanjang 3 jam perjalanan. Saling menanyakan tujuan teman yang lainnya. Tapi entah kenapa saat itu adalah moment paling menyedihkan selama aku bersama dengan mereka. Karena aku tau kalau para sahabatku akan sekolah di luar kota. Rachel akan mengambil sekolah elit di Medan. Sri akan melanjutkan sekolah kejuruan juga di luar kota dan Dien akan segera berangkat ke Kalimantan.

“Antri gimana?”

 “Aku belum tau. Tunggu keputusan orang tua aja lah”

“Jangan sedih Sra. Aku juga bakal stay di sini kok. Aku ambil kejuruan di sini aja” sahut Mario

“Apaan sih Io. Nimbrung aja deh” sahut Sri mulai marah karena Mario merusak suasana

“Ya kan aku menghibur Esra”

“Ya makasih ya. Udah sana” ucapku

Dan masa untuk bersedih sudah berakhir setelah tiba di taman bermain. Kami mulai sibuk mencari wahana dan mulai bermain sepuasnya. Sekitar pukul 3 sore kami semua melanjutkan pejalanan ke tempat pemandian air panas Sidebuk. Pilihan tepat setelah setengah hari ini kami lelah bermain, maka selanjutnya adalah mandi. Walaupun kali ini mandinya dengan air panas. Di sana, kami benar-benar bermain air sepuasnya layaknya anak kecil. Saling bersiram air, menjatuhkan bahkan kami bermain bola di dalam kolam. Tapi ada satu hal yang baru aku sadari sore itu, semenjak berangkat Mario selalu berusaha dekat denganku. Awalnya aku pikir itu hanya pendapatku saja yang terlalu geer, tapi aku semakin yakin saat beberapa sahabatku berpendapat sama. Mengingat bagaimana tiba-tiba dia muncul di tengah pembicaraan kami saat di dalam bis, dilanjutkan saat di wahana bermain. Dia selalu ada di setiap wahana yang aku naiki. Bahkan saat kami menuju kantin wahana pun dia selalu ikut. Terakhir di kolam tadi. Saat kami berbagi tim untuk bermain, tiba-tiba saja dia ingin satu tim denganku. Aku semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.

     Di tempat tujuan kami terakhir- Pasar Berastagi, sebuah pasar yang terkenal dengan pasar buahnya dan juga pasar souvenir karena tempat ini adalah sebuah objek wisata dengan view nya yang indah dan suhu udara yang sangat sejuk. Aku dan para sahabatku mulai memburu ke pasar buah dan dilanjutkan ke toko souvenir. Di sana, kami memutuskan untuk membeli baju dengan warna dan motif yang sama. Untuk identitas persahabatan kami.  Setelah itu aku dan kedua sahabatku kembali ke bis. Kami terlalu lelah untuk berkelana lagi. Sedangkan 3 orang lainnya masih melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa lama di bis, beberapa anak mulai datang termasuk Mario dan beberapa anak geng nya.

“Sra kamu nggak ngasih apapun ke aku sebagai kenangan?” tanya nya tiba-tiba

“Kenapa aku harus ngasih kamu sesuatu?” tanyaku yang membuatnya langsung diam

“Ya kita kan teman”

“Yang lain juga teman aku tapi mereka nggak minta”

“Sondang beliin aku ini loh” ucapnya menunjukkan sebuah gelang di tangannya

“Terus kenapa? Hubungannya sama aku apa?”

“Dasar nggak peka” sahutnya

“ Hah nggak peka gimana?” tanyaku

Namun dia langsung menarik pergelangan tanganku dan memakaikan sebuah gelang yang terbentuk dari potongan-potongan bambu dengan diameter kecil. Dan di permukaan nya terukir E & M.

“Ini inisial nama kita” ucapnya

“Untuk apa?” tanyaku

“Jujur aku kecewa kamu nggak ngasih apa pun untuk kenangan perpisahan kita. Sondang aja membelikanku sesuatu tapi kamu tidak”

“Terus apa?”

“Sebenarnya selama ini cuma ada 2 cewek yang menarik perhatianku di sekolah, kamu dan Sondang. Tapi aku lebih dekat sama kamu dan aku lebih suka sama kamu. Jadi aku beli gelang ini cuma buat kamu aja”

“Oke makasih” ucapku seraya berlalu tapi dia segera meraih tanganku.

“Hanya itu?”

“Lalu kamu mau apa?”

“Apa kamu bodoh atau hanya pura-pura bodoh. Aku baru saja mengungkapkan perasaan aku”

“Aku tau. Dan aku juga udah jawab makasih” candaku

“Cima gitu? Benar cuma gitu aja?”

“Maaf kalau kamu kecewa. Tapi kamu tau kalau aku harus fokus untuk persiapan test kan. Maaf ya untuk sekarang aku belum bisa” ucapku seraya melangkahkan kaki masuk bis meninggalkan dia yang masih diam berdiri. Aku memang jahat langsung menolaknya bahkan tanpa memikirkannya lagi. Tapi ini yang sudah aku putuskan. Aku hanya ingin belajar dengan baik. Aku belum memikirkan hal seperti pacaran. Cita-cita aku lebih penting. Dan aku akan selalu berusaha buat mama bangga dengan prestasi aku, baik sekarang maupun nanti.

“Mario maaf. Aku harus mengejar cita-citaku sekarang. Kalau kita memang berjodoh, pasti kita akan dipertemukan lagi.” batinku

Aku melangkah kembali ke bis saat tiba-tiba seseorang menanggil namaku.

“Sra.”

Aku menoleh. Mencari asal suara yang memanggil namaku. Dan dia di sana, Zian. Berada lurus dihadapanku kira-kira sejauh 3 meter dengan pandangan tertuju padaku.

“Oh hi” sapaku sopan

“Bisa bicara sebentar?”

“Oh oke”

Akhirnya kami berdua berjalan menuju sudut parkiran. Sedikit menjauh dari bis rombongan sekolah agar tidak ada yang mendengar pembicaraan kami.

“Aku mau minta maaf” sahutnya memulai pembicaraan

“Hah maaf  buat apa?” tanyaku dengan setengah tertawa berusaha untuk mencairkan suasana karena merasa terlalu canggung.

“Semuanya. Yang terjadi beberapa bulan terakhir ini”

Dia diam sejenak. Beberapa kali dia berusaha berbicara tapi seakan terlalu berat untuk diungkapkan. Akhirnya dia menarik napas dan mulai bicara.

 “Sebenarnya aku gak tau harus mulai dari mana sra. Tapi kamu harus tau yang sebenarnya”

Aku hanya mengangguk memberikan isyarat agar ia melanjutkan ucapan nya.

“Tentang apa yang anak-anak bicarakan di sekolah tentang kedekatan aku sama kamu itu semuanya benar”

“Maksudnya?”

“Iya saat anak-anak bilang aku dekat sama kamu dengan tujuan aku bisa belajar sama kamu dan demi nilai itu semua benar”

Jujur waktu itu aku speechless. Gak tau harus berkomentar apa. Cukup lama sampai akhirnya aku bisa berbicara lagi.

“Lalu kenapa?”

“Kamu nggak marah?”

“Everybody have a reason to do something right?”

“Kamu gak kecewa sama aku?”

“Kecewa? Buat apa. Toh banyak orang melakukan hal yang sama. Kalau aku jadi kamu juga mungkin akan melakukan hal yang sama. Mencari orang yang bisa memberikan keuntungan, iya kan?”

“Sra plis jangan begini. Aku tau kamu marah. Bentak aja aku. pukul aku atau lakukan sesuatu”

“Kenapa aku harus melakukan itu”

“Karena aku merasa bersalah sama kamu. Aku berbuat salah tapi tidak mendapat hukuman dan itu menyakitkan”

“Oh jadi sekarang kamu minta aku marah dan bentak-bentak kamu biar kamu merasa lebih baik kan? Gak akan”

“Sra plis”

“Buat apa? Toh semua gak akan berubah. Gak ada artinya”

“Buat aku berarti. Biar aku bisa jujur sama kamu”

“Kenapa? Ada kebohongan lain lagi?”

“Bukan kebohongan. Lebih tepatnya pengakuan”

Aku diam. Menunduk dan tidak tau harus berbuat apa lagi. Aku gak tau apa yang ada di kepla anak ini sekarang.

“Sra aku minta maaf karena punya tujuan tersebunyi saat dekat dengan kamu. Maaf juga karena setelah kejadian anak-anak di sekolah aku gak jelasin semuanya sama kamu dan malah menghilang.”

“Iya aku kecewa karena kamu menghilang dan gak bicara apapun tentang semuanya” sahutku kemudian.

“Aku minta maaf. Tapi alasan aku menghilang karena aku malu sama kamu”

“Malu? Kenapa?”

“Iya malu. Karena aku sadar. Setelah semua yang aku lakuin sama kamu, gak seharusnya aku punya perasaan sama kamu”

“Perasaan? Maksudnya kamu suka sama aku?” tanyaku to the point

Aku melihat dia malu dan menghindari pandanganku.  Dia lucu saat bertindak salah tingkah begini

“Apa kamu harus bertanya sefrontal itu? kamu buat aku malu”

“Jadi beneran kamu suka sama aku?” tanyaku menggodanya

“I...i.iya” jawabnya terbata “Aku gak tau tepatnya kapan. Awalnya aku chatting sama kamu, ngobrol sama kamu dengan tujuan biar bisa ngajak kamu belajar bareng dan bahkan bahas tugas. Tapi setelah beberapa lama dekat sama kamu, aku mulai merasa kalau aku nyari kamu, kamudian chatting sama kamu hanya sekedar alasan biar bisa ketemu dan ngobrol sama kamu. Karena itu buat aku senang. Setiap dengar suara kamu di kantin sekolah dari kelas aku, gak tau kenapa aku senang. Bahkan kadang suka ngintip keluar jendela cuma mau liat kamu walau dari jauh” ungkapnya masih malu-malu

Aku senang? Of course yes. Karena sebenarnya aku juga udah nyaman dekat sama dia walaupun aku belum tau apakah ini perasaan suka atau nggak.

“Trus?” tanyaku

“Aku gak minta kamu maafin aku. Aku juga gak minta kamu buat suka sama aku atau jadi pacar aku sekarang”

“Trus ini semua buat apa?”

“Aku menungkapkan semuanya karena aku gak mau memendam perasaan aku terus-menerus sra. Karena aku gak mau menyesal nantinya.

“Bisa gak ngomongnya langsung aja gak muter-muter?”

“Aku suka kamu sra. Tapi aku gak minta kamu jadi pacar aku sekarang karena kita harus lanjutin sekolah kita dulu.  Lusa aku bakal pergi sra. Aku lanjutin sekolah ke Jakarta.”

Kaget, sedih dan mau marah. Kenapa dia harus ngaku tapi sekarang malah mau pergi. Apakah ini pertanda kalau aku gak berjodoh sama dia. Atau salah satu cara Tuhan agar kami berjuang untuk masa depan kami dulu. Aku tidak tau.

“Oh gitu. Good for you” sahutku akhirnya

“Maaf Sra. Aku kurang berani untuk mengakuinya lebih awal”

“Gak papa. Toh kita memang harus ngejar cita-cita kita kan”

Dia mengangguk. Malam itu, setelah pengakuannya yang tiba-tiba, dia datang mengulurkan tangannya kearahku.

“Apa kamu tidak akan menerima uluran tanganku lagi?”

“Untuk apa?” tanyaku

“ Salam perpisahan”

Aku menerima uluran tangannya dan aku merasakan tangannya yang dingin.

“Selamat atas kelulusan kamu. Aku tunggu kabar bahagia kalau kamu lulus di sekolah itu” ucapnya seraya memberikan senyum

“Kamu juga selamat udah lulus. Selamat udah mau jadi anak SMA sekarang. Safe flight ya”

“Sampai jumpa lagi”

“Ya”

Waktu itu kita berjabat tangan cukup lama dan saling menatap. Tanpa kata tapi begitu banyak makna di balik tatapan itu. Aku tersenyum dan dia menarik tubuhku lalu memelukku lama sekali.

“Aku sayang kamu Sra. Good luck ya” ucapnya

“Ya see you on top” balasku

Malam itu, malam yang panjang. Malam yang penuh kenangan. Aku ingat apa yang Zian ucapkan” kita harus lanjutin sekolah kita dulu”. Ya dia benar. Cita-cita lebih penting sekarang dari segalanya. Aku harus fokus buat persiapan test ku beberapa hari mendatang.

Terimakasih Zian. Terimakasih sudah mengingatkanku bahwa sekolah adalah yang utama. Terimakasih juga karena sudah menyayangiku. Sekarang kita harus berpisah untuk cita-cita kita masing-masing. Aku berdoa suatu hari nanti kita bisa ketemu lagi saat kita sudah berhasil menjadi apa yang kita inginkan. Selamat tinggal masa smp. Masa saat pertama kali aku mengenal cinta. 

~end~

Komentar

Postingan Populer